Aussie Stabil di Dekat Puncak
Dolar Australia bertahan di sekitar US$0,708 disesi Asia (13/3) setelah koreksi terbaru, namun masih dekat level tertinggi tiga tahun dan berada di jalur kenaikan mingguan yang tajam. Ketahanan AUD terjadi meski sentimen global memburuk seiring eskalasi konflik Iran dan meningkatnya kekhawatiran gangguan pasokan energi.
Pasar tetap waspada setelah Iran meningkatkan serangan terhadap fasilitas minyak dan transportasi di Timur Tengah, sementara pemimpin tertinggi baru Iran menegaskan Selat Hormuz tetap “efektif tertutup”. Lonjakan harga minyak akibat risiko suplai menambah tekanan inflasi global sekaligus memperbesar kekhawatiran perlambatan pertumbuhan, kombinasi yang biasanya mendorong arus risk-off.
Namun untuk AUD, faktor domestik sementara lebih dominan: ekspektasi pengetatan kebijakan moneter RBA. Pasar menilai peluang kenaikan suku bunga 25 bps menjadi 4,10% pada pertemuan 17 Maret naik menjadi sekitar 78%, dari di bawah 30% di awal pekan. Satu kenaikan tambahan telah sepenuhnya diperkirakan pada Agustus, dengan total pengetatan sekitar 60 bps yang diproyeksikan sepanjang tahun ini.
Saluran transmisi utamanya adalah inflasi biaya hidup yang berpotensi memburuk akibat kenaikan harga bahan bakar, sehingga meningkatkan urgensi kebijakan RBA untuk menjaga inflasi. Selama repricing jalur suku bunga Australia berlanjut, AUD cenderung lebih terlindungi dari tekanan risk aversion dibanding mata uang ber-yield lebih rendah.
Ke depan, arah AUD/USD akan sensitif terhadap dua variabel: konfirmasi sinyal RBA pekan depan dan dinamika harga minyak terkait Hormuz. Perubahan tajam pada risiko geopolitik—yang memengaruhi energi, inflasi, dan selera risiko—berpotensi menggeser keseimbangan antara dukungan carry/imbal hasil AUD dan tekanan risk-off global.(asd)
Sumber: Newsmaker.id