Dolar Menguat, Minyak dan Inflasi Persempit Ruang Pemangkasan Fed
Dolar AS menguat pada Jumat (13/3) dan di jalur mengakhiri pekan dengan kenaikan solid untuk minggu kedua berturut-turut, seiring greenback tetap menjadi aset aman pilihan di tengah perang Iran yang belum menunjukkan tanda mereda. Pada 15:46 ET, indeks dolar AS yang mengukur kinerja greenback terhadap enam mata uang utama naik 0,7% ke 100,36 dan berada di jalur kenaikan mingguan 1,4%.
Penguatan dolar terjadi bersamaan dengan pelemahan mata uang utama lain. EUR/USD turun 0,8% ke 1,1423, sementara GBP/USD melemah 0,9% ke 1,3228. Di Asia, USD/JPY naik 0,2% ke 159,65, menandakan yen tetap berada di bawah tekanan di tengah ketidakpastian energi dan permintaan dolar yang masih dominan.
Dukungan utama bagi dolar datang dari perang AS-Israel melawan Iran yang telah berlangsung lebih dari sepekan. Presiden Donald Trump mengatakan Washington tengah “sepenuhnya menghancurkan” kemampuan militer dan ekonomi Iran, sementara Teheran menegaskan akan terus bertempur. Pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, juga menyatakan Selat Hormuz akan tetap ditutup, memperbesar risiko terhadap jalur energi global.
Prospek penutupan Hormuz yang lebih lama memicu volatilitas tajam di pasar minyak. Brent pekan ini sempat melesat mendekati US$120 per barel sebelum terkoreksi di bawah US$90, dan pada Jumat kembali bertahan di atas US$100. Karena sebagian besar minyak dan gas yang melewati jalur itu digunakan untuk produk seperti pupuk dan plastik, lonjakan harga energi berpotensi memicu tekanan inflasi yang lebih luas di banyak negara.
Risiko inflasi tersebut dapat mendorong bank sentral, termasuk Federal Reserve, menunda pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat. Pasar kini menunggu data PCE Januari, dengan core PCE diperkirakan naik 3,1% tahunan, sedikit lebih tinggi dari 3,0% pada Desember. Data ini menjadi penting karena merupakan salah satu acuan inflasi utama The Fed dan akan dibaca bersama perkembangan perang menjelang rangkaian keputusan suku bunga pekan depan dari Fed, ECB, dan Bank of England. (Arl)
Sumber: Newsmaker.id