Emas Menuju Penurunan Mingguan Kedua Seiring Kenaikan Harga Minyak
Harga emas menguat tipis pada Jumat (13/3), namun tetap menuju penurunan mingguan kedua berturut-turut ketika perang di Timur Tengah menjaga harga minyak bertahan di sekitar US$100 per barel dan menopang tekanan inflasi global. Bullion bergerak di kisaran US$5.100 per ons meski dolar menguat, sementara Gedung Putih mengizinkan pembeli mengambil kargo minyak Rusia yang sudah berada di laut sebagai upaya tambahan menurunkan harga energi.
Sepanjang pekan ini, emas turun sekitar 1,5%, yang menempatkannya pada jalur penurunan mingguan beruntun pertama sejak November. Momentum kenaikan emas juga terlihat tertahan sejak perang AS-Israel dengan Iran dimulai hampir dua pekan lalu, tanpa tanda resolusi yang jelas.
Konflik semakin menegaskan risiko berlarut. Presiden AS Donald Trump mengancam Iran dengan serangan lanjutan setelah pemimpin baru Iran menunjukkan sikap menantang, memperkuat persepsi pasar bahwa perang yang mengganggu arus energi dan pasar global tidak akan mereda dalam waktu dekat.
Namun, harga emas dinilai belum mendapat dorongan kuat dari krisis geopolitik. Analis komoditas Commerzbank Research, Barbara Lambrecht, menilai emas gagal memetik manfaat safe haven karena lonjakan harga minyak dan gas justru meningkatkan risiko inflasi, yang berpotensi memaksa bank sentral mengambil langkah pengetatan atau setidaknya menahan pelonggaran.
Kekhawatiran inflasi tersebut memperkecil ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve dan bank sentral lain. Data belanja konsumen AS yang dirilis Jumat menunjukkan belanja hanya naik tipis pada Januari di tengah pertumbuhan ekonomi yang lebih lemah dari perkiraan, menambah kekhawatiran bahwa tekanan harga sudah terbentuk bahkan sebelum serangan terhadap Iran. Sentimen konsumen AS juga dilaporkan turun ke level terendah tiga bulan, seiring meningkatnya kekhawatiran atas dampak kenaikan harga bensin akibat konflik.
Pelaku pasar kini menilai nyaris tidak ada peluang pemangkasan suku bunga pada rapat The Fed pekan depan, dan sekitar 80% peluang penurunan suku bunga pada tahun ini. Lingkungan suku bunga tinggi biasanya menjadi hambatan bagi logam mulia karena emas tidak memberikan imbal hasil bunga, sementara peningkatan inflasi yang bertahan dapat menunda kembalinya siklus pemangkasan di saat Trump terus mendorong penurunan suku bunga.
Meski melemah pekan ini, emas masih naik sekitar 18% sepanjang tahun berjalan dan sebagian besar bertahan di atas ambang US$5.000 per ons. Pada pukul 10.17 am di New York, spot gold naik 0,1% ke US$5.086,35 per ons. Perak turun 1,8% ke US$82,30, sementara platinum dan palladium melemah. Indeks dolar Bloomberg menguat dan berada di jalur kenaikan mingguan.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id