Yen Melemah, Ancaman Intervensi Kembali Muncul
Newsmaker.id - Yen Jepang kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Jumat, 17 Juli 2026. Pasangan USD/JPY bergerak di sekitar 162,39, mendekati level terlemah dalam hampir 40 tahun di 162,84 yang sempat disentuh pada awal bulan.
Tekanan terhadap yen meningkat setelah ketegangan Amerika Serikat dan Iran kembali memanas. Gelombang serangan terbaru AS mendorong permintaan terhadap dolar sebagai aset aman sekaligus mengangkat harga minyak, dengan Brent naik ke sekitar US$84,83 per barel.
Kenaikan harga minyak menjadi sentimen negatif bagi yen karena Jepang sangat bergantung pada impor energi. Biaya impor yang lebih mahal meningkatkan kebutuhan dolar, memperburuk neraca perdagangan, serta berpotensi menambah tekanan inflasi domestik. Di sisi lain, selisih suku bunga Amerika Serikat dan Jepang masih mendorong aktivitas carry trade yang membebani yen.
Melemahnya yen membuat Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama kembali memberikan peringatan verbal kepada pasar. Pelaku pasar mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan intervensi setelah pemerintah Jepang sebelumnya menghabiskan sekitar 11,7 triliun yen untuk membeli yen dan menjual dolar antara akhir April dan awal Mei.
Dampak terhadap Pasar :
Pelemahan yen dapat menguntungkan perusahaan eksportir Jepang karena pendapatan luar negeri menjadi lebih besar saat dikonversikan ke yen. Namun, kondisi ini meningkatkan biaya impor energi dan bahan baku sehingga dapat menekan daya beli masyarakat serta laba perusahaan yang bergantung pada impor.
Bagi pasar valuta asing, ancaman intervensi dapat memicu volatilitas tajam pada USD/JPY. Apabila pemerintah benar-benar melakukan intervensi, yen berpotensi menguat secara mendadak. Namun, tanpa perubahan selisih suku bunga atau meredanya ketegangan geopolitik, penguatan yen kemungkinan sulit bertahan lama.(CP)