Emas Menuju Pelemahan Mingguan Terbesar Sejak Juni
Harga emas bergerak naik tipis pada perdagangan Jumat (17/7) dan berada di dekat level US$4.000 per troy ounce. Namun, secara mingguan, emas masih berada di jalur pelemahan sekitar 3%, sekaligus berpotensi mencatat penurunan mingguan terbesar sejak awal Juni.
Tekanan terhadap emas datang dari kembali memanasnya konflik di Timur Tengah. Amerika Serikat dan Iran terlibat serangan untuk hari keenam berturut-turut, sementara harga minyak bergerak menuju kenaikan mingguan yang cukup kuat.
Konflik yang telah berlangsung selama lima bulan ini kembali mendorong harga energi dan sejumlah komoditas, mulai dari bahan bakar hingga bahan baku untuk manufaktur dan pangan. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran bahwa inflasi dapat kembali meningkat akibat tekanan biaya.
Kekhawatiran inflasi membuat pasar menilai The Fed masih berpotensi memperketat kebijakan moneter, meski data ekonomi AS terbaru cenderung lebih lemah dan belum mendukung kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. Biaya pinjaman yang lebih tinggi menjadi tekanan bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil.
Pelaku pasar saat ini hanya melihat peluang sekitar 10% untuk kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan Juli. Namun, pasar masih memperkirakan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga hingga akhir tahun, seiring meningkatnya komentar hawkish dari sejumlah pejabat The Fed.
Dampaknya ke market, emas masih sulit keluar dari tekanan selama harga minyak tetap tinggi dan pejabat The Fed terus memberi sinyal waspada terhadap inflasi. Kenaikan tipis emas pada Jumat kemungkinan lebih dipicu aksi beli setelah penurunan, bukan tanda pembalikan tren yang kuat.(arl)
Sumber: Newsmaker.id