Dolar Kuat, Yen Dekati Level Rawan Intervensi
Dolar AS bertahan kuat terhadap sebagian besar mata uang utama pada Jumat (19/6), saat pasar menimbang ketidakpastian kesepakatan damai AS-Iran dan sinyal hawkish Federal Reserve. Tekanan paling jelas terlihat pada yen, yang bergerak di sekitar 161,3 per dolar setelah sempat menyentuh 161,8 pada Kamis malam.
Level tersebut mendekati 161,96 yang tercatat pada Juli 2024. Jika dolar menembus area itu, yen berisiko melemah ke level terendah terhadap dolar sejak 1986, sehingga meningkatkan kewaspadaan pasar terhadap kemungkinan intervensi langsung dari otoritas Jepang.
Penguatan dolar pekan ini didorong oleh proyeksi terbaru The Fed, yang menunjukkan sembilan dari 19 pembuat kebijakan memperkirakan kenaikan suku bunga pada akhir tahun. Sinyal ini mengangkat dolar ke level tertinggi 13 bulan terhadap sekeranjang mata uang utama karena pasar menilai suku bunga AS berpotensi bertahan lebih tinggi lebih lama.
Yen tetap tertekan karena selisih suku bunga Jepang dengan negara lain masih lebar, meski Bank of Japan telah menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam 31 tahun. Kekhawatiran terhadap rencana belanja Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi juga melemahkan kepercayaan investor dan memperkuat spekulasi bahwa intervensi bisa kembali dilakukan.
Dari sisi geopolitik, dolar sebagai aset safe haven mendapat dukungan setelah pembicaraan AS dengan negosiator Iran di Swiss batal berlangsung pada Jumat. Namun, sentimen risiko mendapat sedikit dukungan dari laporan gencatan senjata Israel-Hizbullah di Lebanon, yang membantu meredakan salah satu ancaman terhadap kesepakatan sementara AS-Iran.
Di Eropa, tekanan dolar terhadap euro dan pound mulai memudar menjelang pertengahan sesi. Euro sempat menyentuh level terendah tiga bulan di $1,1418 sebelum pulih ke sekitar $1,1464. Pound juga sempat turun ke level terendah lebih dari dua bulan di $1,3164, lalu berbalik naik tipis ke sekitar $1,322.
Sterling bergerak sensitif terhadap kombinasi data domestik dan risiko politik. Penjualan ritel Inggris untuk Mei lebih kuat dari perkiraan, tetapi defisit anggaran yang lebih besar serta kemenangan Andy Burnham dalam kursi parlemen di Inggris utara menambah ketidakpastian terhadap kepemimpinan Perdana Menteri Keir Starmer.
Franc Swiss melemah setelah Swiss National Bank mempertahankan suku bunga acuan dan kembali menegaskan kesiapan untuk masuk ke pasar guna menahan apresiasi mata uang. Dolar sempat naik ke 0,8091 franc, level tertinggi sejak November 2025.
Fokus pasar berikutnya tertuju pada level USD/JPY di sekitar area 161,9, respons Kementerian Keuangan Jepang, perkembangan kesepakatan AS-Iran, serta arah yield AS setelah sinyal hawkish The Fed. Selama selisih suku bunga tetap lebar dan risiko geopolitik belum sepenuhnya reda, dolar berpotensi tetap didukung meski aksi ambil untung dapat membatasi kenaikan.(arl)
Sumber : Newsmaker.id