USD/JPY Konsolidasi, Risiko Intervensi Jepang Batasi Kenaikan
USD/JPY bergerak konsolidatif pada perdagangan Senin (25/5) setelah membuka pekan dengan gap turun, seiring Dolar AS tertekan oleh meningkatnya optimisme bahwa AS dan Iran kian mendekati kesepakatan yang dapat mengarah pada pembukaan kembali Selat Hormuz. Pada saat laporan ini disusun, pasangan ini diperdagangkan di sekitar 158,90 dan masih berada dalam kisaran pergerakan sekitar sepekan terakhir.
Harapan de-eskalasi muncul setelah laporan akhir pekan menyebut Washington dan Teheran membuat kemajuan menuju kerangka kesepakatan sementara untuk mengakhiri perang. Paket yang dibahas disebut mencakup perpanjangan gencatan senjata 60 hari, pembukaan Selat Hormuz, serta pencabutan blokade laut AS ke pelabuhan Iran, sementara negosiasi program nuklir Iran berlanjut.
Perkembangan tersebut menekan harga energi dan ikut melemahkan dolar, dengan WTI turun ke level terendah sejak 7 Mei dan indeks dolar (DXY) mundur mendekati 99,00. Secara fundamental, pelemahan minyak biasanya mengurangi tekanan inflasi dan memangkas dukungan defensif pada dolar, meski pasar masih menunggu kepastian detail dan implementasi kesepakatan.
Namun, penguatan Yen tidak terlihat dominan meski dolar lebih lunak. Harga energi disebut masih jauh di atas level pra-konflik, menjaga tekanan pada ekonomi Jepang yang bergantung pada impor energi. Bahkan jika pembukaan penuh Selat Hormuz benar terjadi, normalisasi arus pengiriman dan rantai pasok dinilai dapat memakan waktu, membuat Yen tetap rentan dalam jangka dekat terhadap biaya energi yang tinggi.
Dari sisi domestik, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menyatakan pemerintah akan menyiapkan langkah dukungan untuk menahan beban tagihan listrik dan gas rumah tangga dari Juli hingga September. Jepang juga akan menyusun anggaran tambahan lebih dari ¥3 triliun, dengan sekitar ¥500 miliar dialokasikan khusus untuk subsidi listrik dan gas.
Di sisi atas, ruang kenaikan USD/JPY juga dinilai terbatas karena pasar berhati-hati terhadap potensi intervensi otoritas Jepang di sekitar level 160,00, mengingat episode penguatan Yen tajam pada akhir April ketika kurs sempat menembus area tersebut. Meski begitu, bias naik yang lebih luas masih ditopang selisih suku bunga AS-Jepang: kekhawatiran inflasi yang dipicu energi dinilai menjaga ekspektasi The Fed bersikap sabar dalam penurunan suku bunga, sementara Bank of Japan diperkirakan tetap menempuh normalisasi kebijakan secara bertahap.(Arl)
Sumber : Newsmaker.id