Dolar Dekati Titik Terendah 3 Bulan, Fed Jadi Harapan Terakhir
Dolar AS masih berada di bawah tekanan pada perdagangan Kamis (20/8) setelah langkah Departemen Keuangan AS membantu meredakan aksi jual di pasar obligasi. Dollar Index (DXY) turun ke sekitar 98,72, level terendah sejak 14 Mei, sementara euro menguat ke sekitar US$1,1692, tertinggi sejak pertengahan Mei.
Tekanan terhadap greenback terutama datang dari penurunan yield Treasury jangka panjang. Yield obligasi AS tenor 30 tahun sebelumnya sempat menyentuh 5,337%, level tertinggi dalam 19 tahun, sebelum turun ke sekitar 5,198% setelah kebijakan Treasury yang memperbesar buyback utang tenor panjang dan menggeser sebagian kebutuhan pembiayaan ke surat utang jangka pendek.
Pasar obligasi global sebelumnya mengalami tekanan akibat kekhawatiran terhadap membengkaknya utang pemerintah dan tingginya harga minyak di tengah belum adanya perkembangan berarti dalam konflik AS-Israel dengan Iran. Kombinasi tersebut mendorong investor meminta premi lebih tinggi untuk memegang obligasi jangka panjang.
Pelemahan dolar turut memberikan ruang bagi yen Jepang untuk pulih menjauh dari level psikologis 160. USD/JPY diperdagangkan di sekitar 158,41, setelah intervensi terkoordinasi AS-Jepang pada akhir Juli sebelumnya membantu yen bangkit dari level terlemah sekitar 164 per dolar. Poundsterling juga menguat ke US$1,3631, level tertinggi dalam tiga bulan.
Namun, arah dolar belum sepenuhnya bearish karena risalah FOMC Juli menunjukkan kekhawatiran inflasi di internal Federal Reserve masih cukup kuat. Sejumlah pejabat siap mendukung kenaikan suku bunga, sementara banyak anggota menilai pengetatan tambahan mungkin diperlukan jika inflasi gagal bergerak menuju target 2%.
Analisis Newsmaker: dolar saat ini masih tertekan oleh turunnya yield Treasury dan membaiknya risk sentiment. Selama DXY bertahan di bawah area 99,00, tekanan terhadap greenback berpotensi berlanjut dan memberikan dukungan bagi euro, poundsterling, serta yen. Namun, nada Fed yang masih hawkish dan risiko inflasi dari harga energi dapat membatasi pelemahan dolar apabila yield kembali bergerak naik. (arl)
Source: Newsmaker.id