Sanksi Baru AS Dorong Harga Minyak
Harga minyak masih mempertahankan penguatannya pada perdagangan Kamis (20/8) setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan memberlakukan sanksi ekonomi baru yang lebih keras terhadap Iran. Brent naik sekitar 2,1% ke US$93,57 per barel, sementara WTI menguat 2,0% ke US$87,56. Keduanya menyentuh level tertinggi sejak 24 Juli setelah mencatat kenaikan selama lima sesi berturut-turut.
Pasar mulai memperhitungkan kemungkinan kebuntuan di Selat Hormuz berlangsung lebih lama. Trump menyatakan Washington akan menjalankan operasi tekanan ekonomi yang sangat besar terhadap Iran dan mendorong negara-negara sekutu AS untuk ikut memperketat pembatasan. Ia juga memperingatkan entitas yang masih melakukan bisnis dengan Teheran dapat menghadapi konsekuensi ekonomi.
Iran sendiri sudah menghadapi sanksi terhadap ekspor minyak, sementara AS juga mempertahankan blokade laut terhadap sejumlah pelabuhan Iran. Sebagai respons terhadap tekanan Washington, Teheran membatasi aktivitas di Selat Hormuz, jalur yang sebelum perang menangani sekitar 20% pasokan minyak dan LNG dunia.
Data pelayaran terbaru menunjukkan aktivitas komersial melalui Hormuz masih jauh lebih rendah dibandingkan kondisi sebelum perang, meskipun pejabat AS berulang kali menyatakan jalur tersebut telah terbuka. Kondisi ini menjaga premi risiko geopolitik tetap tinggi karena pasar belum mendapatkan kepastian mengenai normalisasi arus tanker.
Trump kembali menyatakan AS memiliki kendali atas Hormuz dan membuka kemungkinan negosiasi dengan Iran pada suatu waktu. Namun, Teheran menegaskan belum ada dialog langsung dan meminta Washington memenuhi persyaratan dalam kesepakatan sementara yang ditandatangani Juni. Kerangka tersebut telah berakhir pekan ini tanpa indikasi jelas akan diperpanjang.
Analisis Newsmaker: bias minyak masih cenderung bullish karena pasar menghadapi kombinasi ancaman sanksi baru, terbatasnya pelayaran Hormuz, dan ketidakpastian diplomasi AS-Iran. Brent yang sudah mendekati US$94 berpeluang menguji area US$95 jika eskalasi berlanjut. Namun, setelah lima sesi kenaikan beruntun, risiko profit taking juga semakin besar jika muncul sinyal deeskalasi atau perbaikan arus pasokan melalui Hormuz. (arl)
Source: Newsmaker.id