Dolar Turun, Jackson Hole Jadi Ujian Berikutnya
Dolar AS melemah ke level terendah dalam lebih dari dua bulan pada perdagangan Senin (17/8) setelah pasar kembali memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve. Rangkaian data ekonomi AS yang lebih lunak membuat investor semakin menilai The Fed tidak perlu terburu-buru melakukan pengetatan tambahan.
Indeks dolar turun ke level terendah sejak awal Juni. Sebaliknya, euro menguat sekitar 0,3% ke kisaran US$1,1614 dan menyentuh level tertinggi dua bulan. Yen Jepang juga menguat sekitar 0,2% ke area 159,04 per dolar meskipun pertumbuhan ekonomi Jepang kuartal kedua lebih lemah dari perkiraan.
Pelemahan dolar semakin kuat setelah Retail Sales AS secara mengejutkan turun dan data inflasi menunjukkan tekanan harga yang relatif terkendali. Pasar kini hanya memperkirakan peluang sekitar 30,8% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada September, turun tajam dari sekitar 52,2% pada pekan sebelumnya.
Perhatian pasar selanjutnya tertuju pada simposium Jackson Hole The Fed pekan depan. Investor akan mencari petunjuk mengenai bagaimana pembuat kebijakan melihat kombinasi inflasi yang melandai, konsumsi yang melemah, serta kondisi pasar tenaga kerja yang mulai kehilangan momentum.
Yen juga mendapat dukungan dari perhatian terhadap kebijakan Bank of Japan dan kemungkinan kenaikan suku bunga berikutnya. Sementara itu, dolar melemah terhadap yuan offshore ke sekitar 6,7372, mendekati posisi terlemah sejak 2023, meskipun data China menunjukkan pertumbuhan produksi industri dan Retail Sales Juli lebih lemah dari perkiraan.
Analisis Newsmaker: Pelemahan dolar saat ini terutama didorong perubahan ekspektasi kebijakan The Fed. Selama peluang Fed hike terus menurun, euro, yen dan mata uang utama lainnya masih memiliki ruang untuk mempertahankan penguatan. Namun, arah berikutnya akan sangat sensitif terhadap pernyataan The Fed di Jackson Hole, data ekonomi AS terbaru, serta perkembangan geopolitik Timur Tengah. (arl)
Sumber : Newsmaker.id