Minyak Naik Lagi, Krisis Hormuz Makin Serius
Harga minyak kembali menguat pada perdagangan Senin (17/8) setelah mencatat kenaikan tajam sepanjang pekan lalu. Brent naik sekitar 0,9% ke US$89,28 per barel, sementara WTI menguat sekitar 0,2% ke US$82,60. Pasar masih memberi premi risiko tinggi karena ketidakpastian diplomasi AS-Iran dan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz yang semakin terbatas.
Gangguan di Hormuz menjadi perhatian utama setelah serangan terhadap sejumlah tanker dan berlanjutnya blokade laut AS terhadap pelabuhan Iran. Data pelayaran menunjukkan hanya lima kapal komoditas yang melintas pada Sabtu dan tidak ada yang melewati selat pada Minggu, jauh lebih rendah dibanding puluhan kapal pada akhir pekan sebelumnya dan lebih dari seratus kapal per hari sebelum konflik pecah.
Ketegangan diplomatik juga belum menunjukkan perbaikan. Menteri Luar Negeri Iran kembali menegaskan bahwa Teheran tidak sedang melakukan pembicaraan langsung dengan Washington, sementara AS mengancam akan memperketat tekanan ekonomi untuk memaksa Iran kembali ke meja perundingan. Kondisi ini membuat prospek normalisasi arus energi melalui Hormuz tetap tidak pasti.
Risiko pasokan tersebut untuk sementara mengalahkan sentimen negatif dari sisi permintaan. OPEC dan IEA sama-sama memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global untuk 2026, tetapi pasar lebih fokus pada ancaman gangguan pasokan dari Timur Tengah. Tekanan bahkan lebih terasa pada produk olahan, terutama diesel, akibat gangguan kilang, hambatan pelayaran, dan pasokan yang semakin ketat.
Konflik Rusia-Ukraina turut menambah tekanan setelah serangan Ukraina kembali menyasar infrastruktur minyak Rusia. Kombinasi gangguan di Teluk dan Rusia meningkatkan kekhawatiran bahwa ketersediaan produk energi dapat semakin ketat dalam beberapa bulan mendatang.
Analisis Newsmaker: Selama lalu lintas Hormuz tetap sangat terbatas dan pembicaraan AS-Iran belum bergerak maju, Brent masih memiliki peluang mempertahankan momentum di sekitar US$90. Namun, pelemahan prospek permintaan global tetap menjadi penahan reli. Jika gangguan pelayaran memburuk, risiko kenaikan menuju level yang lebih tinggi kembali terbuka, sementara kemajuan diplomatik dapat memicu profit taking cepat. (arl)
Sumber : Newsmaker.id