Dolar AS Melemah Tipis, Hormuz Jadi Fokus
Dolar AS melemah tipis pada perdagangan Rabu (22/7) setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi lebih dari satu pekan. Indeks dolar AS turun tipis ke sekitar 101,13, tetapi pelemahannya masih terbatas karena harga minyak terus naik di tengah meningkatnya ketegangan Timur Tengah.
Tekanan terhadap dolar sempat muncul setelah data inflasi AS sebelumnya menunjukkan perlambatan, baik dari sisi CPI maupun PPI. Data sentimen konsumen AS juga membaik, sementara ekspektasi inflasi satu tahun ke depan menurun, memberi ruang bagi The Fed untuk tidak terburu-buru memperketat kebijakan.
Namun, situasi berubah setelah konflik AS-Iran kembali meningkat. Kedua negara saling menyerang selama 11 hari berturut-turut, membuat lalu lintas kapal di Selat Hormuz turun tajam. Ancaman Houthi di Yaman terhadap jalur Bab el-Mandeb juga menambah kekhawatiran gangguan pasokan energi global.
Harga minyak Brent sempat menembus US$95 per barel untuk pertama kalinya sejak 11 Juni. Presiden AS Donald Trump juga memperingatkan bahwa setiap serangan Iran terhadap kapal di Selat Hormuz akan dibalas dengan penghancuran jembatan atau pembangkit listrik di Iran, termasuk yang berada dekat Teheran.
Di mata uang lain, poundsterling stabil di sekitar US$1,3373 setelah inflasi Inggris melambat ke 2,6% pada Juni dari 2,8% pada Mei. Yen Jepang juga sedikit pulih setelah sebelumnya jatuh ke level terlemah dalam 40 tahun, sementara euro naik tipis ke sekitar US$1,1410 menjelang keputusan suku bunga ECB.
Dampaknya ke market, dolar AS masih berpotensi bertahan kuat jika harga minyak terus naik dan memicu kekhawatiran inflasi baru. Kondisi ini bisa membuat pasar kembali memperkirakan kebijakan bank sentral yang lebih hawkish. Sementara itu, pound dan euro masih menunggu arah kebijakan BoE dan ECB, sedangkan yen tetap rawan intervensi jika terus melemah di atas area 160 per dolar.(yds)
Sumber: Newsmaker.id