DXY Melemah Usai Ceasefire Israel–Lebanon, Tapi Risiko Iran dan Data AS Tahan Penurunan
Indeks Dolar AS (DXY) bergerak lebih lemah pada Kamis (04/6) di sesi Asia dan bertahan di sekitar 99,50, setelah menguat tiga hari beruntun. Pelemahan terjadi seiring meredanya permintaan aset aman usai kabar Israel dan Lebanon sepakat memperbarui gencatan senjata, yang sementara mengurangi kekhawatiran konflik regional meluas.
Kesepakatan itu diumumkan lewat pernyataan bersama setelah pembicaraan yang dipimpin AS di Washington, namun bersifat kondisional karena mensyaratkan “penghentian tembakan sepenuhnya” oleh Hezbollah yang didukung Iran. Israel dan Lebanon juga disebut sepakat membentuk sejumlah “zona keamanan percontohan” di mana militer Lebanon akan memegang kontrol eksklusif wilayah, meski kedua negara tidak memiliki hubungan diplomatik formal.
Meski sentimen membaik, optimisme geopolitik tetap terbatas. Laporan media menyebut Presiden Donald Trump mempertimbangkan mengakhiri gencatan dengan Iran jika Teheran membunuh pasukan AS. Trump juga mengisyaratkan blokade yang ada bisa berlangsung lebih lama dari perkiraan—meski ia menyebut skenario itu kecil kemungkinannya—yang pada praktiknya memperpanjang ketidakpastian pasar soal waktu normalisasi arus di Hormuz.
Dari sisi fundamental, dolar masih punya bantalan dari ekspektasi suku bunga. Data tenaga kerja AS terbaru—termasuk ADP payrolls Mei dan JOLTS job openings—mengarah pada pasar kerja yang tetap resilien, sehingga pasar cenderung menaikkan taruhan bahwa The Fed akan menahan suku bunga tinggi lebih lama.
Perang Iran yang terus berdampak ke pasar energi juga menjaga risiko inflasi tetap hidup, memperkuat argumen bagi kebijakan moneter yang lebih ketat. Pasar kini mem-price-in sekitar 42% peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Desember, membuat ruang pelemahan DXY tetap terbatas selama data AS tetap solid dan harga energi belum benar-benar turun.(asd)
Sumber : Newsmaker.id