Dolar Jebol 97, Pasar Makin Yakin The Fed Akan “Dovish”
Indeks Dolar AS (DXY) turun ke sekitar 97,90 di sesi Asia Jumat, setelah dua hari menguat, dan sempat menembus di bawah 98,00. Pelemahan ini muncul saat pasar menilai data tenaga kerja terbaru memberi sinyal pendinginan, sehingga ekspektasi pelonggaran kebijakan The Fed kembali menguat.
Data ketenagakerjaan AS jadi pemicu utama. Klaim Tunjangan Pengangguran Awal naik ke 231 ribu (minggu berakhir 31 Januari), lebih tinggi dari perkiraan 212 ribu dan sebelumnya 209 ribu. Sementara ADP menunjukkan penambahan pekerjaan sektor swasta hanya 22 ribu di Januari, jauh di bawah ekspektasi 48 ribu dan sebelumnya 37 ribu.
Sejalan dengan itu, pasar mulai mengunci skenario dua kali pemotongan suku bunga tahun ini, dengan pemangkasan pertama diperkirakan terjadi pada Juni, lalu berpotensi lanjut pada September. Berdasarkan CME FedWatch, peluang The Fed menahan suku bunga di pertemuan Maret berada di kisaran 77,3%, mempertegas bahwa pelonggaran belum terjadi dalam waktu dekat.
Meski melemah, DXY masih bertahan dekat puncak dua minggu, karena investor menilai laju pemotongan suku bunga The Fed kemungkinan lebih lambat dari harapan sebagian pelaku pasar. Gubernur The Fed Lisa Cook menegaskan ia belum mendukung pemotongan lanjutan tanpa bukti yang lebih kuat bahwa inflasi benar-benar mereda, menunjukkan fokus The Fed masih condong ke risiko inflasi yang “bandel”.
Pasar juga mencermati efek pencalonan Kevin Warsh sebagai kandidat ketua The Fed berikutnya. Warsh dikenal menyukai neraca The Fed yang lebih kecil dan pendekatan yang cenderung tidak agresif dalam pemotongan suku bunga—yang membuat pasar menimbang ulang seberapa cepat “mode dovish” bisa terjadi, sekaligus meredakan sebagian kekhawatiran soal independensi bank sentral.(Asd)
Sumber: Newsmaker.id