Dolar Tertekan usai Penundaan NFP
Dolar AS sedikit melemah terhadap euro pada perdagangan Eropa Rabu (4/2), dipicu ketidakpastian kebijakan The Fed setelah rilis data tenaga kerja penting tertahan akibat partial government shutdown yang baru saja berakhir. Penundaan data seperti NFP membuat pasar kehilangan “kompas” untuk membaca arah suku bunga AS, sehingga pergerakan dolar cenderung lebih ragu-ragu.
Di sisi lain, pasar masih mencerna efek “Warsh factor”. Dolar sempat melonjak pada Jumat setelah Donald Trump memilih Kevin Warsh untuk menggantikan Jerome Powell saat masa jabatan Powell berakhir sekitar Mei. Warsh dikenal mendukung neraca Fed yang lebih ramping dan menyebut produktivitas dari AI bisa membuka ruang kebijakan lebih longgar—kombinasi yang bisa mempercuram kurva imbal hasil, tapi justru membuat arah suku bunga totalnya terlihat lebih tidak pasti.
Sementara itu, perhatian investor juga tertuju ke Eropa. Euro menguat sekitar 0,13% ke $1,1833 menjelang rapat ECB Kamis, di mana pasar menunggu sinyal apakah bank sentral akan mulai “resah” dengan penguatan euro yang terlalu cepat. Pekan lalu euro sempat menyentuh level tertinggi 4,5 tahun di 1,2084, dan sejumlah pejabat ECB sudah memberi peringatan bahwa euro yang terlalu kuat berisiko menekan inflasi—padahal inflasi sudah diproyeksikan berada di bawah target 2%. Sterling juga menguat tipis menjelang rapat Bank of England, dengan konsensus pasar memperkirakan suku bunga ditahan.
Di Asia, yen Jepang melanjutkan pelemahan untuk hari keempat berturut-turut, turun sekitar 0,44% ke 156,43 per dolar, menjelang pemilu nasional. Kekhawatiran datang dari kampanye Perdana Menteri Sanae Takaichi yang mendorong belanja lebih besar, pemotongan pajak, dan agenda pertahanan—bahkan sempat menyinggung manfaat yen yang lebih lemah (meski kemudian ditarik kembali). Pasar membaca sinyal yang campur-aduk ini sebagai risiko tambahan bagi mata uang yang sedang rapuh.
Mata uang lain bergerak beragam. Dolar Australia naik tipis setelah reli kuat sesi sebelumnya menyusul langkah RBA menaikkan suku bunga. Di China, yuan sempat menyentuh level terkuat hampir 33 bulan terhadap dolar karena sinyal kebijakan bank sentral yang lebih tegas, meski penguatannya dinilai masih “ditahan” agar tidak terlalu cepat. Dengan ekspor yang kuat menopang yuan, risikonya masih condong menguat—namun kenaikan berlebihan juga bisa menambah tekanan ke ekonomi China yang masih rapuh. (Arl)
Sumber: Newsmaker.id