Dolar Stabil, Pasar Kehilangan 'Kompas' Karena Shutdown
Indeks dolar (DXY) bergerak nyaris datar di kisaran 97,6 pada Selasa (3/2), setelah sempat melonjak sekitar dua sesi terakhir. Tenaga dolar sebelumnya datang dari dua pemantik: pencalonan Kevin Warsh yang dianggap lebih “hawkish” untuk memimpin Federal Reserve, serta data manufaktur AS yang mengejutkan kuat. Efeknya, pasar menunda skenario pemangkasan suku bunga yang terlalu cepat.
Meski begitu, banyak pelaku pasar menilai cerita besar dolar belum berubah: ketidakpastian kebijakan AS masih tinggi, dan jalur suku bunga tetap sangat bergantung data. Saat ini pasar masih memperkirakan The Fed bisa memangkas suku bunga dua kali tahun ini, dengan titik yang sering disebut mengarah ke pertengahan dan akhir tahun—namun tingkat keyakinannya bisa berubah cepat begitu data baru keluar.
Masalahnya, “data besar” justru terganggu. Bureau of Labor Statistics menunda rilis laporan ketenagakerjaan (termasuk Jobs Report/NFP) karena partial shutdown, dan rilis JOLTS (Job Openings) juga ikut tertunda. Ini bikin pasar kehilangan kompas jangka pendek—sehingga dolar jadi lebih sensitif terhadap headline politik dan komentar pejabat bank sentral.
Di Washington, pimpinan Partai Republik di DPR dijadwalkan voting paket pendanaan untuk mengakhiri shutdown, setelah paketnya lolos Senat. Perkembangan ini ikut mempengaruhi sentimen karena shutdown yang berlarut bisa mengganggu layanan publik dan jadwal rilis data ekonomi.
Sementara itu, dolar AS melemah paling terasa terhadap dolar Australia setelah Reserve Bank of Australia menaikkan suku bunga 25 bps—memberi AUD dorongan yield yang membuat USD “kalah langkah” di pasangan tersebut. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id