Warsh Makin Difavoritkan—Kenapa Dolar Langsung Naik?
Dolar AS menguat bersamaan dengan kenaikan imbal hasil obligasi AS (yield), setelah muncul kabar bahwa Trump sedang menyiapkan nominasi Kevin Warsh sebagai calon Ketua The Fed berikutnya—meski disebut belum final sampai pengumuman resmi.
Penguatan ini terjadi karena pasar menilai Warsh cenderung lebih “hawkish” (lebih ketat soal inflasi) dibanding kandidat yang dianggap lebih “dovish”. Artinya, kalau Warsh yang terpilih, peluang pemangkasan suku bunga bisa lebih sedikit/lebih lambat—dan itu biasanya mendukung dolar.
Sinyal pasar terlihat jelas: dolar naik terhadap mata uang utama, sementara yield US 10-tahun ikut naik beberapa basis poin. Ini menunjukkan investor langsung mengubah posisi begitu narasi “Warsh favorit” menguat.
Di “pasar prediksi”, peluang Warsh melonjak tajam—bahkan sempat di atas 80%–90% di Polymarket—sementara dukungan untuk kandidat lain seperti Rick Rieder merosot. Itu ikut memperkuat keyakinan pasar bahwa pengumuman Trump kemungkinan mengarah ke Warsh.
Warsh sendiri adalah mantan gubernur The Fed (2006–2011) dan pernah jadi kandidat kuat pada 2017 sebelum Trump memilih Powell. Jika terpilih dan lolos Senat, ia akan menggantikan Powell yang masa jabatannya sebagai ketua berakhir Mei.
Semua ini muncul di tengah kekhawatiran yang lebih besar: pasar sudah sensitif terhadap kebijakan AS yang sulit ditebak, defisit besar, dan isu independensi bank sentral. Trump juga sempat memberi sinyal suka dolar lemah, lalu Menkeu Scott Bessent menegaskan “kebijakan dolar kuat”—campuran sinyal seperti ini bikin pasar cepat bereaksi.
Intinya: begitu peluang Warsh naik, pasar langsung “price in” skenario kebijakan lebih ketat, sehingga dolar dan yield terdorong. Tapi volatilitas masih tinggi sampai Trump benar-benar menyebut nama resminya.(asd)
Sumber : Newsmaker.id