Dolar Loyo Lagi, Pasar Balik Main “Weak USD Trade”
Dolar AS kembali melemah pada Rabu dan menghentikan kenaikan singkatnya, karena pasar makin ramai memainkan “perdagangan pelemahan dolar” (weak USD trade). Indikator mata uang AS versi Bloomberg turun sekitar 0,3%, sementara emas dan perak melanjutkan reli pemecahan rekor. Sejumlah pelaku pasar menilai dolar belakangan tidak lagi dianggap safe haven utama, karena investor lebih memilih “safe haven nyata” seperti logam mulia.
Pelemahan dolar terjadi meski Menteri Keuangan AS Scott Bessent menegaskan pemerintah tetap memegang kebijakan “dolar yang kuat”. Pernyataan Bessent datang setelah komentar Presiden Donald Trump sehari sebelumnya yang menyebut ia nyaman dengan dolar melemah karena dinilai menguntungkan bisnis AS—komentar yang ikut memicu aksi jual dolar di pasar.
Sejumlah analis melihat Bessent mencoba menenangkan pasar tanpa mengubah arah besar. Ada yang menilai ia memakai “ambiguitas strategis”: di satu sisi bicara soal dolar kuat, di sisi lain pasar membaca pemerintah masih menginginkan pelemahan dolar yang bertahap agar tidak berujung liar. Di sisi mata uang G10, dolar Australia memimpin penguatan terhadap dolar AS, disusul dolar Selandia Baru, sementara franc Swiss juga menguat setelah sempat menyentuh level terkuat sejak 2015.
“Perdagangan pelemahan dolar” sendiri pada dasarnya adalah taruhan bahwa daya beli dolar akan terus turun dalam jangka panjang. Alasannya beragam: kekhawatiran kebijakan AS yang sulit diprediksi, defisit yang dinilai terlalu besar, hingga persepsi AS makin isolatif. Tahun ini indeks dolar Bloomberg sudah turun lebih dari 2%, setelah melemah tajam pada 2025—dan selama narasi ini bertahan, tekanan pada dolar berpotensi tetap terasa. (az)
Sumber: Newsmaker.id