Pound Menguat, Sentimen Damai AS–Iran Dorong Risk-On
Pound Inggris menguat melewati US$1,34 dan mencapai level tertinggi sejak awal Juni, didukung oleh membaiknya sentimen risiko global setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan awal untuk mengakhiri konflik tiga bulan. Kondisi ini menekan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven dan memberi ruang bagi mata uang berisiko seperti pound untuk menguat.
Kesepakatan awal tersebut mencakup pencabutan blokade AS dan pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur penting bagi pengiriman energi global. Jika kesepakatan ditandatangani di Swiss pada Jumat dan Hormuz benar-benar kembali dibuka, tekanan terhadap harga minyak dapat mereda. Dampaknya, kekhawatiran inflasi energi juga bisa berkurang.
Namun, pasar belum sepenuhnya menghapus risiko geopolitik. Beberapa detail kesepakatan masih belum selesai, terutama terkait program nuklir Iran. Selain itu, Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir menyatakan bahwa kesepakatan tersebut tidak mengikat Israel, sehingga risiko ketegangan regional belum sepenuhnya hilang.
Dari sisi domestik, fokus investor kini beralih ke keputusan Bank of England pada Kamis. Keputusan tersebut diperkirakan berlangsung ketat karena pembuat kebijakan harus menyeimbangkan tekanan inflasi dengan pasar tenaga kerja yang melemah dan pertumbuhan ekonomi yang lambat. Kondisi ini membuat arah kebijakan BoE masih sulit dibaca.
Trader kini hanya memperhitungkan satu kali kenaikan suku bunga BoE tahun ini. Artinya, meski pound mendapat dukungan dari sentimen risk-on, ruang kenaikan tetap bergantung pada apakah BoE memberi sinyal hawkish atau justru lebih berhati-hati karena ekonomi Inggris melemah.(asd)
Sumber: Newsmaker.id