Perak Jatuh, Pasar Siaga CPI AS dan Risiko Suku Bunga
Harga perak melemah tajam pada Selasa (9/6), turun di bawah US$66 per ons atau turun lebih dari 4%—kembali ke area yang terakhir terlihat pada Desember 2025—saat pasar menahan posisi menjelang rilis data inflasi AS. Pelemahan ini menandakan investor semakin sensitif terhadap arah suku bunga, bukan hanya faktor safe haven.
Fokus utama kini tertuju pada CPI AS yang dijadwalkan rilis Rabu. Konsensus memperkirakan inflasi naik ke 4,2% YoY pada Mei, level tertinggi hampir tiga tahun, didorong lonjakan biaya energi. Jika angka ini terkonfirmasi atau lebih tinggi, tekanan pada logam mulia non-yielding seperti perak berpotensi berlanjut.
Tekanan perak juga datang dari data tenaga kerja AS pekan lalu yang lebih kuat dari perkiraan, dengan penambahan 172.000 pekerjaan pada Mei. Kombinasi pasar kerja yang solid dan inflasi yang belum jinak membuat pasar menaikkan taruhan pengetatan, dengan pelaku pasar kini memprice-in peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Desember di kisaran 70%.
Di sisi geopolitik, muncul sinyal potensi de-eskalasi setelah Iran dan Israel menghentikan serangan menyusul dorongan AS. Perkembangan ini sempat menekan harga minyak dan memberi jeda pada kekhawatiran inflasi energi. Namun ketidakpastian kesepakatan yang lebih luas membuat sentimen tetap rapuh, sehingga perak masih rentan terhadap pergeseran cepat pada ekspektasi inflasi dan suku bunga.(arl)
Sumber: Newsmaker.id