Perak Turun Lagi, Headline Iran Dorong Mode Risk-Off
Harga perak melemah pada Selasa (26/5) dan kembali turun di bawah US$77 per ounce, seiring meningkatnya kehati-hatian pasar setelah laporan serangan AS terhadap target di Iran selatan memudarkan optimisme soal kemajuan pembicaraan pembukaan kembali Selat Hormuz. Di sesi Eropa, XAG/USD berada di kisaran US$75,7–76,0 per ounce.
Sentimen memburuk setelah laporan menyebut militer AS menargetkan lokasi peluncuran rudal dan kapal yang diduga mencoba menempatkan ranjau, dengan Komando Pusat AS menyatakan operasi itu bertujuan melindungi pasukan Amerika di kawasan. Presiden Donald Trump tetap mengatakan pembicaraan dengan Teheran berjalan baik, namun memperingatkan serangan tambahan dapat terjadi jika negosiasi gagal, menjaga pasar dalam mode “headline-driven”.
Dari sisi fundamental, eskalasi di sekitar Hormuz cenderung mengangkat premi risiko pasokan energi. Ketika harga minyak kembali sensitif terhadap risiko gangguan jalur pelayaran, kekhawatiran inflasi berbasis energi ikut naik, yang biasanya memperkuat argumen suku bunga tinggi lebih lama. Kanal ini menjadi tekanan bagi perak: ekspektasi kebijakan yang lebih ketat dan yield yang tinggi meningkatkan opportunity cost aset tanpa imbal hasil.
Perak masih tercatat turun hampir 20% sejak konflik dimulai, karena pasar sebelumnya menaikkan taruhan kebijakan moneter yang ketat lebih lama ketika lonjakan energi memperkuat kekhawatiran inflasi. Namun, koreksi tajam harga minyak dalam sepekan terakhir sempat membantu meredakan kekhawatiran inflasi dan mengurangi kebutuhan repricing suku bunga lebih tinggi, sehingga arah perak kini sangat bergantung pada apakah tensi Hormuz kembali meningkat atau justru mereda.
Variabel yang dipantau berikutnya adalah perkembangan diplomasi terkait Hormuz, arah harga minyak pasca-eskalasi, serta pergeseran ekspektasi suku bunga yang akan menentukan apakah pelemahan perak berlanjut atau stabil di sekitar area saat ini. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id