Harga Minyak Stagnan, Akankah Perang atau Damai Jadi Penentu?
Harga minyak bergerak stabil setelah mencatat penurunan mingguan ketiga berturut-turut. Brent bertahan di sekitar $61 per barel, sementara WTI berada di atas $57. Para pelaku pasar saat ini fokus pada perkembangan hubungan dagang antara AS dan China. Presiden AS Donald Trump menunjukkan optimisme menjelang putaran baru pembicaraan dagang minggu ini, dengan menyebut bahwa kenaikan tarif lanjutan bukan pilihan yang masuk akal.
Meski ada harapan dari sisi diplomasi, tekanan lain datang dari proyeksi surplus pasokan minyak yang diperkirakan berlangsung hingga 2026. Badan Energi Internasional (IEA) bahkan memperkirakan surplus ini bisa lebih besar dari prediksi sebelumnya. Di sisi lain, serangan Ukraina terhadap infrastruktur energi Rusia tetap menjadi faktor yang bisa memicu lonjakan harga sewaktu-waktu.
Trump juga berencana bertemu kembali dengan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk mencoba mengakhiri konflik di Ukraina. Namun, upaya sebelumnya belum membuahkan hasil. Jika ada tanda-tanda perdamaian, Citigroup memprediksi harga minyak bisa turun lebih dalam, bahkan mendekati $50 per barel.
Beberapa indikator pasar juga menunjukkan melemahnya momentum. Selisih harga kontrak terdekat Brent menyempit, menandakan penurunan permintaan jangka pendek. Brent untuk pengiriman Desember turun 0,4% ke $61,06 per barel, sementara WTI untuk kontrak November, yang segera jatuh tempo, turun 0,4% ke $57,33. Kontrak Desember yang lebih aktif diperdagangkan di $56,93. (asd)
Sumber: Newsmaker.id