• Tue, Mar 10, 2026|
  • JKT --:--
  • TKY --:--
  • HK --:--
  • NY --:--

Market & Economic Intelligence Platform Insight on Macro, Commodities, Equities & Policy

16 October 2025 03:18  |

Minyak Tergelincir! Ditengah Tensi Dagang AS-China

Harga minyak turun pada hari Rabu (15/10) ke level terendah dalam lima bulan karena meningkatnya ketegangan dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok, serta prediksi surplus pasokan minyak oleh Badan Energi Internasional (IEA) pada tahun 2026.

Kontrak berjangka minyak mentah Brent turun 48 sen, atau 0,8%, dan ditutup pada $61,91 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 43 sen, atau 0,7%, menjadi $58,27 per barel. Ini merupakan penutupan terendah untuk kedua patokan harga tersebut sejak 7 Mei, dan terjadi selama dua hari berturut-turut.

Sementara Bank of America menyatakan bahwa harga Brent bisa jatuh di bawah $50 per barel jika ketegangan dagang AS-Tiongkok terus meningkat sementara produksi OPEC+ terus bertambah

Dua negara dengan konsumsi minyak terbesar di dunia ini kembali memanaskan perang dagang dalam sepekan terakhir, dengan AS dan Tiongkok saling memberlakukan tarif pelabuhan tambahan terhadap kapal-kapal yang mengangkut barang antar keduanya. Langkah balas membalas ini berpotensi mengganggu arus pengiriman global.

Pekan lalu, Tiongkok mengumumkan akan memperketat kontrol ekspor logam tanah jarang (rare earth), dan Presiden AS Donald Trump mengancam akan menaikkan tarif terhadap barang-barang Tiongkok hingga 100% serta memperketat ekspor perangkat lunak mulai 1 November.

Kemarin Menteri Keuangan AS Scott Bessent menegaskan bahwa Washington tidak ingin memperburuk konflik dagang, dan menambahkan bahwa Trump siap bertemu Presiden Tiongkok Xi Jinping di Korea Selatan akhir bulan ini.

Tekanan deflasi terus berlangsung di Tiongkok, dengan harga konsumen dan produsen mengalami penurunan pada bulan September. Lesunya pasar properti dan ketegangan dagang juga turut menekan ekonomi.

Ketegangan yang kembali meningkat ini menjadi risiko signifikan bagi prospek ekonomi global, sehingga semakin penting bagi Federal Reserve AS untuk memangkas suku bunga acuannya, kata Gubernur The Fed Stephen Miran pada hari Rabu. Kebijakan ekonomi yang lebih longgar dapat mendorong pertumbuhan dan permintaan terhadap minyak.

Penjualan ritel AS, jika tidak termasuk kendaraan bermotor dan suku cadangnya, diperkirakan kembali mencatat kenaikan pada bulan September, menurut data dari Federal Reserve Chicago. Namun, sebagian kenaikan tersebut kemungkinan disebabkan oleh harga yang lebih tinggi.

Pada hari Selasa, IEA menyatakan bahwa pasar minyak global bisa menghadapi surplus hingga 4 juta barel per hari pada tahun depan lebih besar dari perkiraan sebelumnya karena OPEC+ dan produsen lainnya meningkatkan produksi sementara permintaan tetap lesu.(yds)

Sumber: Reuters

Related News

OIL

Harga Minyak Naik Dua Hari Beruntun, Ditopang Optimisme Daga...

Minyak naik untuk hari kedua di tengah optimisme atas perundingan perdagangan AS menjelang batas waktu minggu depan, dan kare...

25 July 2025 10:56
OIL

Brent Terombang-ambing, Pasar Bingung Antara Sanksi dan Paso...

Harga minyak mengalami pergerakan yang tidak stabil pada hari Selasa (15/07), di tengah ketidakpastian pasar atas dampak kebi...

15 July 2025 21:42
OIL

Minyak Dunia Tertahan

Harga minyak sedikit berubah setelah mengalami penurunan beberapa minggu yang lalu, dengan hubungan pedagang dampak dari sank...

22 September 2025 07:39
OIL

Pasokan Tambah, Ekspor Turun: Drama Baru Harga Minyak Dimula...

Harga minyak dunia pada Rabu (2/7) nyaris tak berubah karena pasar menimbang berbagai faktor, mulai dari rencana peningkatan ...

2 July 2025 16:19
BIAS23.com NM23 Ai