• Fri, Mar 13, 2026|
  • JKT --:--
  • TKY --:--
  • HK --:--
  • NY --:--

Market & Economic Intelligence Platform Insight on Macro, Commodities, Equities & Policy

15 August 2025 18:21  |

Minyak Turun di Tengah Antisipasi Pertemuan Trump–Putin

Harga minyak melemah pada Jumat (15/8) saat pelaku pasar menanti hasil pembicaraan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin, yang diperkirakan sebagian pihak dapat membuka peluang pelonggaran sanksi terhadap Moskow terkait perang di Ukraina.

Kontrak berjangka Brent turun 50 sen atau 0,8% menjadi $66,34 per barel pada pukul 09.23 GMT. Sementara itu, kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 57 sen atau 0,9% menjadi $63,39 per barel.

Dalam pertemuan di Alaska tersebut, gencatan senjata di Ukraina menjadi agenda utama. Trump menyatakan yakin Rusia siap mengakhiri perang, namun ia juga mengancam akan memberlakukan sanksi sekunder pada negara yang membeli minyak Rusia jika pembicaraan damai tidak mengalami kemajuan.

“Pasar sedang menunggu apakah akan ada gencatan senjata atau tidak. Ekspektasi gencatan senjata berarti potensi peningkatan produksi Rusia,” kata Giovanni Staunovo, analis komoditas di UBS. “Pertanyaannya adalah, apakah akan ada eskalasi atau de-eskalasi?”

Meski ada kesepakatan, pelonggaran sanksi terhadap Rusia kemungkinan akan memakan waktu karena harus melalui persetujuan Kongres AS, tambah Staunovo.

Sepanjang minggu ini, WTI diperkirakan turun 0,7% sementara Brent naik 0,4%.

Data ekonomi Tiongkok yang lebih lemah juga menambah kekhawatiran permintaan bahan bakar. Data resmi menunjukkan pertumbuhan output pabrik anjlok ke level terendah dalam delapan bulan dan pertumbuhan penjualan ritel melambat ke titik terendah sejak Desember, meskipun throughput kilang minyak meningkat 8,9% secara tahunan pada Juli. Namun, throughput ini lebih rendah dibandingkan Juni yang menjadi level tertinggi sejak September 2023.

Selain itu, ekspor produk minyak Tiongkok bulan lalu juga meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, yang mengindikasikan penurunan permintaan domestik.

Prospek surplus pasokan minyak global yang membesar ikut menekan sentimen, apalagi dengan kemungkinan suku bunga AS yang bertahan tinggi lebih lama. Analis Bank of America dalam catatan Kamis (14/8) memperlebar proyeksi surplus pasar minyak akibat meningkatnya pasokan dari OPEC+, yakni organisasi negara pengekspor minyak yang mencakup Rusia dan sekutunya.

Mereka kini memperkirakan rata-rata surplus sebesar 890.000 barel per hari dari Juli 2025 hingga Juni 2026. Proyeksi ini mengikuti perkiraan Badan Energi Internasional (IEA) awal pekan ini yang menyebut pasar minyak tampak “kebanjiran pasokan” setelah kenaikan produksi OPEC+. (azf)

Sumber: Investing.com

 

Related News

OIL

Harga Minyak Naik Dua Hari Beruntun, Ditopang Optimisme Daga...

Minyak naik untuk hari kedua di tengah optimisme atas perundingan perdagangan AS menjelang batas waktu minggu depan, dan kare...

25 July 2025 10:56
OIL

Brent Terombang-ambing, Pasar Bingung Antara Sanksi dan Paso...

Harga minyak mengalami pergerakan yang tidak stabil pada hari Selasa (15/07), di tengah ketidakpastian pasar atas dampak kebi...

15 July 2025 21:42
OIL

Pasokan Tambah, Ekspor Turun: Drama Baru Harga Minyak Dimula...

Harga minyak dunia pada Rabu (2/7) nyaris tak berubah karena pasar menimbang berbagai faktor, mulai dari rencana peningkatan ...

2 July 2025 16:19
OIL

Minyak Terus Naik karena Arus Rusia yang Lebih Rendah Mengim...

Minyak memperpanjang kenaikan terbesarnya dalam hampir empat minggu karena pasokan minyak mentah Rusia yang lebih ketat memba...

11 February 2025 14:35
BIAS23.com NM23 Ai