Minyak Naik Enam Hari, Pasar Masih Ragukan Deal Hormuz
Harga minyak kembali menguat untuk hari keenam berturut-turut pada perdagangan Rabu karena pasar masih meragukan apakah kesepakatan terkait Selat Hormuz benar-benar dapat memulihkan arus energi global. Brent bergerak di sekitar US$90 per barel setelah melonjak sekitar 12% dalam lima sesi sebelumnya, sementara WTI bertahan di atas US$84.
Pergerakan minyak masih sangat sensitif terhadap perkembangan negosiasi. Optimisme sempat muncul setelah Menteri Pertahanan Pakistan mengatakan AS dan Iran mulai mendekati suatu bentuk kesepakatan, sementara pembicaraan Iran-Oman mengenai Hormuz disebut telah mencapai tahap lanjut. Namun, pasar tetap skeptis karena belum ada bukti bahwa jalur tersebut akan segera kembali beroperasi normal.
Ketidakpastian semakin tinggi setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan Washington “sepenuhnya menguasai” Hormuz dan menegaskan bahwa dirinya tidak memercayai Iran. Pernyataan itu muncul setelah Trump mengajukan tuntutan baru kepada Teheran, sementara Iran tetap menuntut kompensasi sebagai bagian dari proses negosiasi untuk mengakhiri konflik.
Risiko pasokan masih menjadi faktor utama yang menopang harga. Menurut proyeksi EIA, gangguan produksi minyak akibat konflik Iran dapat mencapai sekitar 600.000 barel per hari hingga akhir 2027. Lalu lintas kapal melalui Hormuz juga masih sangat terbatas, meskipun sebagian minyak tetap keluar dari Teluk Persia dengan bantuan pengamanan militer AS.
Di sisi lain, ada faktor yang berpotensi menahan kenaikan harga. American Petroleum Institute melaporkan persediaan minyak mentah AS naik sekitar 9,1 juta barel pada pekan lalu. Jika dikonfirmasi oleh data resmi, kenaikan tersebut akan menjadi yang terbesar sejak Februari. Pasar juga menunggu laporan bulanan IEA dan OPEC untuk melihat gambaran terbaru pasokan dan permintaan global.(mrv)*
Sumber : Newsmaker.id