Perang Dorong Minyak Melonjak 24%
Harga minyak menutup perdagangan Juli dengan kenaikan bulanan terbesar sejak Maret. Minyak Brent kontrak aktif naik 1,2% dan ditutup mendekati US$88 per barel, sedangkan West Texas Intermediate menguat 1,3% ke US$84,67 per barel.
Sepanjang Juli, harga Brent melonjak hampir 24%. Kenaikan tersebut dipicu oleh meningkatnya risiko gangguan pasokan energi akibat konflik di Timur Tengah serta serangkaian serangan terhadap kapal pengangkut minyak di sekitar Laut Hitam.
Ketegangan meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengaku mulai kehilangan kepercayaan terhadap para perunding Iran. Pernyataan itu memperbesar kekhawatiran bahwa perang dapat berlangsung lebih lama dan mengganggu pengiriman minyak melalui kawasan Teluk Persia.
Risiko pasokan juga datang dari serangan terhadap kapal-kapal yang beroperasi di sekitar terminal Caspian Pipeline Consortium. Terminal tersebut menjadi jalur penting bagi ekspor minyak Kazakhstan dan memasok banyak kilang di Eropa, sehingga setiap gangguan dapat memperketat pasokan global.
Meski pelayaran melalui Selat Hormuz mulai menunjukkan pemulihan, ancaman tetap tinggi setelah jeda konflik AS-Iran runtuh dan kelompok Houthi ikut meningkatkan serangan di Laut Merah. Persediaan minyak AS yang terus menurun turut memberikan dukungan tambahan bagi harga.
Analisis Newsmaker: Harga minyak masih berpeluang bertahan tinggi selama konflik belum mereda dan jalur pengiriman tetap terancam. Namun, kenaikan tajam sepanjang Juli juga membuka risiko aksi ambil untung. Minyak yang terus menguat dapat mendorong inflasi, memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi, serta menekan pertumbuhan ekonomi global. (arl)
Sumber : Newsmaker.id