Brent US$100, Pasar Energi Siaga Merah
Harga minyak melonjak tajam pada perdagangan Kamis (23/7) setelah Brent menembus US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak 26 Mei. Kenaikan ini dipicu serangan Houthi yang didukung Iran terhadap dua tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah.
Brent kontrak September naik 6,3% ke level US$100,06 per barel, sementara West Texas Intermediate atau WTI menguat 4,8% ke US$90,95 per barel. Lonjakan ini menunjukkan pasar mulai memasukkan risiko besar terhadap pasokan energi global.
Houthi menyebut serangan dilakukan karena dua tanker Saudi dianggap melanggar blokade maritim yang baru diumumkan. Ancaman ini meningkatkan kekhawatiran bahwa jalur Bab el-Mandeb, yang menghubungkan Laut Merah dan Teluk Aden, bisa terganggu lebih lama.
Jika gangguan berlanjut, tanker minyak berpotensi harus memutar melalui Afrika bagian selatan. Rute yang lebih panjang dapat menaikkan biaya pengiriman, meningkatkan premi asuransi, dan memperlambat arus pasokan minyak ke pembeli utama seperti India dan China.
Ketegangan juga meningkat di Selat Hormuz setelah AS melanjutkan serangan malam ke-12 terhadap Iran. Teheran menyatakan memiliki kendali atas jalur tersebut dan memperingatkan kapal tanker tidak boleh melintas tanpa koordinasi. Kondisi ini membuat dua jalur penting minyak dunia, Hormuz dan Bab el-Mandeb, sama-sama masuk zona risiko tinggi.
Dampaknya ke market, minyak masih berpeluang bertahan kuat selama risiko serangan tanker, penutupan jalur pelayaran, dan konflik AS-Iran belum mereda. Namun, data persediaan AS yang naik 2 juta barel bisa menjadi penahan kenaikan jika pasar mulai melakukan profit taking. Selama Brent bertahan di atas US$98, bias masih bullish, dengan target berikutnya di area US$102–US$105 per barel.(arl)
Sumber : Newsmaker.id