Laut Merah Jadi Ancaman Baru, Brent Melesat
Harga minyak makin mendekati level psikologis US$100 per barel pada hari Kamis (23/7) setelah kelompok Houthi yang didukung Iran mengklaim menyerang dua tanker Arab Saudi di Laut Merah. Serangan ini memperluas konflik Timur Tengah dan meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan global.
Brent sempat melonjak di atas US$98 per barel dan bergerak naik 4% ke sekitar US$97,98. Sementara itu, WTI menguat 3,2% ke level US$89,59 per barel. Kenaikan ini memperpanjang reli minyak yang sudah naik lebih dari 30% sepanjang bulan ini.
Houthi menyebut mereka menembakkan rudal dan drone ke kapal tanker yang dianggap melanggar blokade terhadap pelabuhan Saudi. Salah satu tanker yang terkena serangan, Encelia, dilaporkan mengirim status “not under command”, yang menandakan kapal kemungkinan kehilangan kemampuan manuver akibat kerusakan.
Serangan di Laut Merah membuka front baru dalam konflik regional. Jalur ini menjadi sangat penting bagi Arab Saudi karena digunakan sebagai alternatif ekspor minyak saat arus dari Teluk Persia dan Selat Hormuz terganggu akibat konflik AS-Iran.
Di sisi lain, militer AS kembali menyerang target Iran, termasuk kemampuan maritim dan fasilitas pengawasan pesisir. Washington dan Teheran juga sama-sama meredam peluang pembicaraan damai, sehingga pasar semakin khawatir konflik akan berlangsung lebih lama.
Dampaknya ke market, harga minyak masih berpeluang menguji US$100 per barel jika gangguan di Laut Merah, Bab el-Mandeb, dan Selat Hormuz terus berlanjut. Namun, karena kenaikan sudah sangat agresif, oil juga rawan profit taking jika muncul sinyal diplomasi atau rute pelayaran kembali aman. Selama Brent bertahan di atas US$96, bias jangka pendek masih cenderung bullish.(arl)
Sumber : Newsmaker.id