Minyak Anjlok, Deal AS–Iran Pangkas Premi Risiko Hormuz
Harga minyak turun tajam setelah Amerika Serikat dan Iran menyepakati kesepakatan sementara untuk mengakhiri perang berbulan-bulan di Timur Tengah. Kesepakatan ini membuka peluang Selat Hormuz kembali dibuka dan meredakan tekanan pasokan yang selama ini mengguncang pasar energi global. Brent turun 4,7% ke US$83,23/barel, sementara WTI melemah 5,5% ke US$80,23/barel.
Presiden AS Donald Trump mengatakan pembukaan Hormuz akan dilakukan tanpa biaya setelah kesepakatan ditandatangani pada Jumat. Ia juga menyatakan blokade terhadap Iran akan diakhiri. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengonfirmasi kesepakatan telah tercapai, tetapi teks perjanjian baru akan dipublikasikan setelah seremoni penandatanganan di Swiss.
Selat Hormuz menjadi faktor utama karena pada kondisi normal jalur ini membawa sekitar seperlima arus minyak global. Sejak perang pecah pada akhir Februari, penutupan Hormuz dan blokade kapal terkait Iran telah menghambat pengiriman minyak, bahan bakar, dan gas dari Teluk Persia. Prospek pembukaan kembali jalur ini membuat pasar melepas premi risiko geopolitik yang sebelumnya mendorong harga energi.
Namun, pemulihan arus minyak tidak akan langsung normal. Pelaku pasar masih menunggu detail teknis kesepakatan, termasuk pembersihan ranjau, kepastian keamanan kapal, biaya asuransi, serta sikap Iran terhadap kontrol lalu lintas kapal di Hormuz. Selain itu, sejumlah ladang minyak yang sempat shut-in bisa membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk kembali berproduksi penuh.
Secara fundamental, penurunan minyak dapat membantu meredakan tekanan inflasi energi dan mengurangi tekanan pada bank sentral untuk menaikkan suku bunga. Namun, stok minyak dan produk energi yang sudah terkuras tetap perlu diisi kembali, sehingga risiko pasokan belum sepenuhnya hilang. Arah minyak berikutnya akan bergantung pada penandatanganan resmi, implementasi pembukaan Hormuz, dan seberapa cepat produksi Teluk Persia dapat pulih.(asd)
Sumber: Newsmaker.id