Pasar Minyak Bergejolak, Fokus ke Ultimatum AS terhadap Iran
Harga minyak memperpanjang kenaikan untuk hari ketiga seiring Presiden AS Donald Trump meningkatkan tekanan terhadap Iran menjelang tenggat waktu pada Selasa malam waktu setempat. Pernyataan Trump memicu kenaikan premi risiko geopolitik, di tengah kekhawatiran potensi gangguan pasokan dari kawasan Teluk.
West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di atas US$113 per barel, setelah pada Senin ditutup pada level tertinggi sejak Juni 2022. Sementara itu, Brent berakhir sedikit di bawah US$110 per barel, mencerminkan penguatan sentimen bullish di pasar energi global.
Trump pada Senin mengatakan pembicaraan dengan Iran “berjalan baik,” namun ia juga menegaskan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi “prioritas yang sangat besar.” Ia menyampaikan konsekuensi yang akan dihadapi Iran jika kesepakatan tidak tercapai sebelum batas waktu Selasa pukul 8 malam Waktu Timur AS.
Iran memperingatkan akan merespons kemungkinan serangan dengan meningkatkan serangan terhadap infrastruktur energi di kawasan Teluk. Skenario tersebut dipandang dapat memperparah pengetatan pasokan bahan bakar global dan memperbesar dampak tekanan terhadap perekonomian dunia, terutama ketika konflik disebut sudah memasuki pekan keenam dan memicu guncangan pasokan yang signifikan.
Analis Enverus, Carl Larry, menilai Trump “tidak mundur dari pernyataan-pernyataan sebelumnya,” sehingga pasar melihat risiko eskalasi masih tinggi. Menurutnya, situasi mendekati fase penentuan, tetapi hasil akhirnya berpotensi tidak kondusif bila berujung pada tindakan militer.
Dari sisi pasar fisik, kekhawatiran pasokan jangka pendek juga terlihat pada melebar tajamnya prompt spread WTI, selisih antara dua kontrak terdekat, yang sempat mendekati US$15,50 per barel pada Senin. Pelebaran ini dipicu ekspektasi pasokan AS yang lebih ketat, seiring pembeli luar negeri meningkatkan pembelian minyak mentah Amerika, sementara WTI kontrak Mei naik 1% ke US$113,50 per barel pada perdagangan pagi di Singapura.
Harga minyak naik hari ketiga beruntun dipicu eskalasi tensi AS-Iran menjelang deadline Selasa pukul 8 malam ET.
5 Point Initi :
- WTI tembus di atas US$113/barel (tertinggi sejak Juni 2022), sementara Brent mendekati US$110/barel.
- Trump menyatakan negosiasi “berjalan baik,” tetapi tetap menekankan Selat Hormuz sebagai prioritas besar dan melontarkan ancaman keras jika tidak ada kesepakatan sebelum tenggat.
- Iran memperingatkan akan membalas dengan meningkatkan serangan ke infrastruktur energi di Teluk, yang bisa memperparah krisis pasokan global dan menekan ekonomi dunia.
- Indikasi pasar makin ketat terlihat dari prompt spread WTI yang sempat mendekati US$15,50/barel, mencerminkan kekhawatiran pasokan AS mengetat saat pembeli luar negeri memburu crude Amerika.(asd)
Sumber: Newsmaker.id