Harga Minyak Melonjak Usai Trump Tegaskan Serangan AS ke Iran Berlanjut
Harga minyak dunia melonjak lebih dari 5% pada hari Kamis setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan Amerika Serikat akan terus melanjutkan serangan terhadap Iran, tanpa memberikan kepastian kapan perang akan berakhir. Pernyataan itu memicu kekhawatiran pasar bahwa gangguan pasokan dapat berlangsung lebih lama.
Kontrak berjangka Brent naik US$6,33 atau 6,3% menjadi US$107,49 per barel pada pukul 04.07 GMT. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) menguat US$5,28 atau 5,3% menjadi US$105,40 per barel.
Peningkatan tersebut terjadi setelah acuan kedua sempat turun lebih dari US$1 sebelum pidato Trump yang disiarkan televisi, serta ditutup melemah pada sesi sebelumnya. Perubahan arah harga ini mencerminkan sensitivitas pasar terhadap perkembangan geopolitik yang dinilai berisiko langsung terhadap sisi pasokan energi.
Dalam pidatonya, Trump menyatakan AS akan “menuntaskan pekerjaan” dan mengklaim militer AS hampir mencapai tujuan dalam konflik tersebut, yang menurutnya dapat berakhir dalam dua hingga tiga pekan. Namun, Trump tidak memaparkan rincian maupun kerangka waktu yang jelas, sehingga pelaku pasar menilai eskalasi risiko masih terbuka.
Analis Phillip Nova, Priyanka Sachdeva, menilai pasar merespons ketidakhadirannya sinyal tegas mengenai gencatan senjata atau jalur intelijen. Menurutnya, jika ketegangan meningkat atau risiko pelayaran memburuk, harga minyak berpotensi menguji tingkat yang lebih tinggi karena pasar memasukkan kemungkinan gangguan pasokan.
Risiko terhadap lalu lintas maritim juga meningkat seiring konflik kawasan yang memanas. Pada hari Rabu, sebuah kapal tanker yang disewa QatarEnergy melaporkan terkena rudal jelajah Iran di perairan Qatar, menurut kementerian pertahanan negara tersebut. Di sisi lain, kepala Badan Energi Internasional (IEA) memperingatkan bahwa gangguan pasokan berisiko mulai menekan perekonomian Eropa pada bulan April, sementara ekonom utama Rystad Energy, Claudio Galimberti, menilai pasar masih “mencerna” pernyataan pemerintah karena belum ada rencana gencatan senjata yang solid atau langkah penurunan eskalasi yang jelas.(asd)
Sumber : Newsmaker.id