Harga Emas Lanjut Melemah, Pasar Beralih dari Safe Haven ke Tekanan Suku Bunga
Harga emas kembali turun pada perdagangan Kamis setelah pasar menilai pidato terbaru Presiden Donald Trump soal Iran tidak memberi kejelasan soal akhir perang.Spot gold turun 2% ke US$4.664,39 per ons, sementara futures emas AS melemah 2,5% ke US$4.691,10 per ons. Tekanan ini muncul ketika dolar AS dan imbal hasil Treasury justru menguat, membuat daya tarik emas sebagai aset tanpa imbal hasil ikut berkurang.
Secara umum, pelemahan emas kali ini bukan karena pasar merasa situasi sudah aman. Justru sebaliknya, pidato Trump yang tetap membuka ruang serangan lanjutan ke Iran membuat harga minyak melonjak tajam dan ini memicu kekhawatiran baru soal inflasi energi, serta ketika ekspektasi inflasi naik, yield obligasi AS ikut terdorong lebih tinggi.
Di titik inilah emas mulai kehilangan dukungan. Meski biasanya dianggap safe haven saat geopolitik memanas, emas menjadi kurang menarik ketika pasar melihat suku bunga berpotensi bertahan tinggi lebih lama. Reuters menulis bahwa kenaikan dolar, naiknya yield Treasury, dan turunnya ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed menjadi kombinasi utama yang menekan harga emas. Peluang pasar untuk pemangkasan suku bunga pada Desember bahkan turun menjadi 12% dari sebelumnya 25%, menandakan investor kini makin berhati-hati bertaruh pada pelonggaran moneter.
Selain faktor makro, ada elemen teknikal yang ikut memperbesar tekanan. Emas sebelumnya sudah reli cukup kuat hingga mencapai level tertinggi dua minggu, sehingga penurunan terbaru juga menunjukkan adanya aksi ambil untung dan rapikan posisi. Reuters bahkan mencatat emas sempat mengalami penurunan 11% sepanjang Maret, yang menjadi penurunan bulanan terburuk sejak 2008, menandakan pasar logam mulia saat ini memang sangat sensitif terhadap perubahan sentimen, dolar, dan arah suku bunga.
XAU/USD turun lagi bukan karena risiko perang hilang, tetapi karena pasar sekarang lebih takut pada efek lanjutan perang terhadap inflasi, yield, dan suku bunga. Selama dolar tetap kuat, yield bertahan tinggi, dan pasar belum yakin The Fed akan segera memangkas suku bunga, ruang pemulihan emas masih berpotensi terbatas dalam jangka pendek.
Penyebab:
Dolar AS menguat setelah pidato Trump soal Iran, sehingga menekan emas yang dihargai dalam dolar.
Yield Treasury naik karena pasar khawatir lonjakan harga energi akan mendorong inflasi lebih tinggi.
Harga minyak melonjak tajam usai Trump menegaskan serangan terhadap Iran akan berlanjut, sehingga risiko inflasi energi kembali membesar.
Ekspektasi rate cut The Fed makin mundur, dengan peluang pemotongan suku bunga Desember turun ke 12% dari 25%.
Aksi profit-taking muncul setelah emas sebelumnya naik ke level tertinggi dua minggu.(Zaf)
Sumber: Newsmaker.id