Minyak Bertahan Tinggi, Trump Campur Sinyal Damai dan Ancaman
Harga minyak mempertahankan kenaikan pada perdagangan Senin setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan peluang kesepakatan untuk mengakhiri permusuhan di Timur Tengah “kemungkinan besar” tercapai, namun pada saat yang sama mengeluarkan ancaman serangan terhadap infrastruktur energi Iran. Kontrak Brent berfluktuasi usai unggahan Trump di Truth Social, tetapi tetap diperdagangkan di sekitar US$115 per barel, mencerminkan pasar yang menimbang sinyal diplomasi dan risiko eskalasi secara bersamaan.
Trump memperingatkan bahwa bila kesepakatan tidak tercapai segera dan Selat Hormuz tidak “dibuka untuk bisnis,” AS dapat menargetkan pembangkit listrik, sumur minyak, dan terminal Pulau Kharg. Risiko pasar tetap terkonsentrasi pada Hormuz, jalur strategis yang biasanya dilalui sekitar seperlima minyak dunia. Konflik yang telah memasuki minggu kelima disebut hampir sepenuhnya membekukan lalu lintas selat, sementara pelaku pasar memperingatkan dampak harga yang lebih luas akan muncul jika gangguan berlarut.
Reli minyak sepanjang Maret—Brent naik sekitar 60%—didorong kekhawatiran kombinasi inflasi yang meningkat dan pertumbuhan yang melambat. Morgan Stanley menilai dampak kumulatif penutupan efektif Hormuz kini mulai menyebar ke pasar pengguna akhir, karena kehilangan pasokan yang menumpuk semakin sulit ditutupi dari stok dan pengalihan rute.
Di sisi arus kapal, Iran dilaporkan membatasi sebagian besar pelayaran namun mengizinkan beberapa kapal dari negara tertentu melintas. Teheran disebut berupaya memformalkan kendalinya atas selat, sementara tanda-tanda pelonggaran terbatas muncul melalui sejumlah kapal yang diberi izin lewat. Dua kapal kontainer milik negara China juga dilaporkan mencoba keluar dari Hormuz pada Senin, sebuah langkah yang diperhatikan pasar sebagai indikasi dinamika izin lintas yang masih berubah cepat.
Eskalasi tambahan datang dari keterlibatan Houthi di Yaman, yang meningkatkan risiko di jalur Laut Merah dan berpotensi menambah hambatan pasokan jika ancaman meluas ke kargo dari pelabuhan tertentu, termasuk rute yang terkait Saudi. Dengan ketidakpastian konflik dan rute pelayaran, lembaga riset dan bank investasi mulai memetakan skenario ekstrem, termasuk proyeksi bahwa harga bisa melonjak tajam bila Hormuz tetap tertutup hingga pertengahan tahun.
Dampak perang juga mulai merembet ke Asia-Pasifik. Korea Selatan mempertimbangkan memperluas pembatasan berkendara jika minyak menembus US$120 per barel, Australia berencana memangkas sebagian pajak bahan bakar untuk sementara, dan maskapai Vietnam dikabarkan akan mengurangi penerbangan mulai April karena risiko pasokan dan biaya bahan bakar jet. Pada pembaruan terakhir, Brent Mei naik 1,9% ke US$114,75 per barel pada pukul 08.28 New York, sementara WTI Mei naik 1,3% ke US$100,98.
Penyebab: Premi risiko energi bertahan tinggi karena Selat Hormuz masih tersendat, eskalasi meluas (termasuk Houthi), dan retorika Trump yang menggabungkan sinyal negosiasi dengan ancaman langsung terhadap aset energi Iran.
Dampak: Volatilitas harga meningkat, tekanan inflasi energi menguat, dan risiko perlambatan pertumbuhan naik—terlihat dari langkah-langkah respons di sejumlah negara (transportasi, fiskal, dan sektor penerbangan). Pasar akan memantau status pelayaran di Hormuz, tindak lanjut diplomasi AS-Iran, serta potensi gangguan tambahan di rute Bab el-Mandeb/Laut Merah sebagai penentu arah minyak berikutnya.(alg)
Sumber: Newsmaker.id