Dolar Dekati Puncak, Risiko Perang Iran Dorong Permintaan Safe Haven
Dolar AS menguat pada Senin (30/3), mendekati level tertinggi 10 bulan, seiring investor kembali mencari aset yang dianggap paling aman di tengah ketidakpastian arah perang Iran. Indeks dolar (DXY) naik 0,2% ke 100,34 pada 08:31 waktu AS, menempatkan greenback tetap kuat setelah reli sepanjang Maret dan berada di jalur kenaikan bulanan terbesar sejak Juli 2025.
Penguatan dolar terjadi ketika pasar tetap gelisah akibat penutupan efektif Selat Hormuz yang sudah berlangsung beberapa pekan, memukul lalu lintas tanker minyak mentah dan mendorong lonjakan harga energi. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran inflasi global, terutama bagi importir energi di Asia seperti Jepang dan Korea Selatan, serta negara-negara zona euro yang masih bergantung pada impor gas dari kawasan Teluk Persia.
Di tengah guncangan energi, dolar dinilai mendapat “perlindungan relatif” karena AS dipandang lebih terlindungi dibanding kawasan importir, sejalan dengan statusnya sebagai net exporter. ING menilai tanpa sinyal damai yang jelas dari pihak Iran, sulit melihat dolar melepaskan penguatan bulan ini dalam waktu dekat.
Pasar juga terus memantau perkembangan Timur Tengah yang bergerak cepat. Presiden AS Donald Trump mengatakan terdapat “kemajuan besar” dalam negosiasi untuk mengakhiri perang, namun kembali mengulang ancaman untuk menyerang pembangkit listrik Iran jika pembicaraan gagal.
Fokus berikutnya tertuju pada pidato Ketua The Fed Jerome Powell serta rangkaian data ekonomi AS, termasuk rilis data tenaga kerja Maret, yang bisa membentuk ekspektasi arah suku bunga dan menopang volatilitas di pasar valuta.(yds)
Sumber: newsmaker.id