Brent Menguat, Risiko Pasokan Meluas Setelah Serangan Houthi
Harga minyak menguat pada awal pekan ketika konflik Iran semakin melebar setelah kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman meluncurkan serangan ke Israel dan menyatakan operasi akan berlanjut hingga serangan terhadap Iran serta kelompok proksinya berhenti. Brent naik dan diperdagangkan sekitar $115,30 per barel pada sesi Asia, sementara WTI menguat ke sekitar $10,77 per barel, memperkuat premi risiko energi yang sudah tinggi sejak perang dimulai.
Pasar menilai eskalasi terbaru menambah lapisan risiko baru di luar Selat Hormuz. Meski Houthi tidak secara eksplisit mengancam jalur pelayaran Bab el-Mandeb/Laut Merah, kemampuan mereka menekan rute tersebut menjadi perhatian karena jalur ini berfungsi sebagai “bypass” ketika Hormuz terganggu. Risiko juga mencakup infrastruktur dan titik ekspor alternatif di kawasan, termasuk pelabuhan Saudi di Laut Merah yang dipakai untuk sebagian ekspor ketika akses Hormuz memburuk.
Di sisi fundamental, Iran masih membatasi sebagian besar lalu lintas di Hormuz dan hanya mengizinkan sebagian kapal tertentu melintas, sehingga ketatnya pasokan jangka pendek tercermin pada struktur harga. Reuters menyoroti lonjakan harga minyak seiring kekhawatiran gangguan pasokan, sementara struktur pasar yang semakin “bullish” mengindikasikan fokus investor tetap pada risiko ketersediaan fisik, bukan sekadar volatilitas headline harian.
Ke depan, pasar akan memantau apakah Houthi memperluas tekanan ke rute Laut Merah, perubahan kebijakan akses di Hormuz, serta dinamika penambahan pasukan AS di kawasan—tiga faktor yang menentukan apakah premi geopolitik bertahan atau kembali terkoreksi.(asd)
Sumber: Newsmaker.id