Minyak Terkoreksi 3% setelah Sejumlah Kapal Dapat Melintas Selat Hormuz
Harga minyak turun sekitar 3% pada Senin (16/3) setelah sejumlah kapal mulai melintasi Selat Hormuz, jalur pengiriman energi paling krusial di dunia. Koreksi ini terjadi meski sekutu-sekutu AS menolak seruan Presiden Donald Trump untuk ikut membantu membuka blokade di selat tersebut, dan ketika kepala IEA mengisyaratkan rilis cadangan bisa ditambah untuk menahan lonjakan biaya energi akibat perang Iran.
Pada penutupan perdagangan, Brent turun $2,93 (-2,8%) menjadi $100,21 per barel, sementara WTI merosot lebih tajam $5,21 (-5,3%) menjadi $93,50 per barel. Analis menilai penurunan WTI lebih dalam dibanding Brent dipengaruhi beberapa faktor: produksi minyak AS yang mendekati rekor, tambahan suplai dari impor Venezuela, rencana pelepasan minyak dari Strategic Petroleum Reserve (SPR), serta aksi teknikal menjelang kedaluwarsa kontrak front-month WTI April.
Koreksi hari Senin terjadi setelah reli tajam sebelumnya. Pada Jumat, Brent menutup di level tertinggi sejak Agustus 2022 dan WTI di level tertinggi sejak Juli 2022, membuat kedua benchmark sempat naik hampir 40% sejak serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari. Reli tersebut terutama dipicu kekhawatiran gangguan pasokan karena lalu lintas tanker di Hormuz sempat nyaris berhenti.
Di sisi politik, Trump kembali mengulangi seruan agar negara-negara lain membantu mengamankan dan membuka Hormuz, namun mengeluhkan minimnya antusiasme dari mitra-mitra AS. Di Eropa, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas menyatakan para menteri luar negeri UE saat ini “tidak memiliki selera” untuk memperluas misi angkatan laut UE di Timur Tengah hingga ke Hormuz—menandakan dukungan koalisi internasional belum menguat.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id