Emas & Perak Tertekan, Trump–Iran Picu Kembali Narasi “Suku Bunga Tinggi”
Emas dan perak memperpanjang pelemahan pada hari Selasa (9/6) setelah ketegangan Timur Tengah kembali naik dan pasar menilai risiko pengetatan pasokan energi bisa bertahan lebih lama. Sentimen berubah ketika Presiden AS Donald Trump menyatakan AS “harus merespons” setelah menuding Iran menembak jatuh helikopter militer AS di lepas Oman, menambah ancaman baru bagi proses perdamaian yang selama ini disebut “hampir tercapai”.
Kenaikan risiko geopolitik ini menghidupkan lagi jalur transmisi yang belakangan paling menekan logam mulia: energi ketat → inflasi lebih tinggi → suku bunga lebih tinggi. Dalam skenario itu, bank sentral cenderung menahan suku bunga tinggi lebih lama atau bahkan menaikkan, yang menjadi beban bagi emas dan perak karena keduanya tidak memberikan imbal hasil.
Dari sisi teknikal, emas juga terseret setelah menembus moving average 200 hari, level yang sering dipantau investor institusi dan bisa memicu aksi jual lanjutan. Emas kini disebut sekitar 19% di bawah level sebelum perang Iran pecah akhir Februari, menegaskan bahwa pasar masih melihat tekanan “rate-driven” lebih dominan dibanding fungsi safe haven.
Citigroup juga memangkas target emas 3 bulan menjadi US$4.000/oz dari US$4.300/oz, dengan alasan peluang kenaikan suku bunga The Fed tahun ini meningkat, meski mempertahankan target 6–12 bulan di US$5.000/oz. Artinya, pandangan jangka panjang bisa tetap konstruktif, tetapi ruang gerak jangka pendek dinilai berisiko tinggi.
Pada penutupan New York, emas spot turun 1,5% ke US$4.263,43/oz, sementara perak jatuh 4,4%. Indeks dolar Bloomberg memang sedikit melemah, tetapi belum cukup untuk menahan tekanan dari kombinasi headline geopolitik, ekspektasi inflasi energi, dan repricing suku bunga.(arl)*
Sumber: Newsmaker.id