Brent Tembus US$100, Hormuz Macet dan Pesan Trump Picu Reli Minyak
Harga minyak kembali melonjak dan membawa Brent mendekati US$100 per barel ketika kekacauan pengapalan akibat perang Iran makin intens, sementara Presiden AS Donald Trump menegaskan prioritasnya menghentikan Iran memiliki senjata nuklir—bukan menahan harga minyak. Brent sempat melesat lebih dari 10% ke US$101,59 sebelum memangkas kenaikan, lalu kembali menguat.
Trump menulis di Truth Social bahwa AS “menghasilkan banyak uang” ketika harga minyak naik dan menyebut isu nuklir Iran “jauh lebih penting” baginya. Pasar sempat mendapat jeda setelah laporan bahwa pemerintah AS menyiapkan waiver 30 hari untuk Jones Act agar tanker asing dapat membantu memasok kilang di Pantai Timur dari Pantai Teluk dan wilayah lain, sebagai upaya menahan lonjakan harga.
Namun, tekanan pasokan tetap dominan. Pemimpin tertinggi baru Iran mengatakan Selat Hormuz seharusnya tetap ditutup, sementara Menteri Energi AS Chris Wright menyatakan pengawalan militer kemungkinan baru dimulai pada akhir bulan. Iran meningkatkan serangan terhadap kapal dan pelabuhan di Teluk Persia, memperlebar ancaman ke rantai pasok energi dan menutupi dampak pelepasan cadangan darurat yang sudah disetujui.
International Energy Agency memperingatkan gangguan pasokan saat ini adalah yang terbesar dalam sejarah pasar minyak global. Penutupan efektif Hormuz—jalur bagi sekitar seperlima arus minyak dunia—memaksa produsen Teluk memangkas output, sementara gas alam dan produk seperti diesel ikut melonjak. Di Asia, kilang China mulai membatalkan kargo ekspor bahan bakar, setelah sebelumnya diminta berhenti meneken kontrak baru.
Goldman Sachs memperingatkan harga minyak berpotensi melampaui puncak 2008 jika arus Hormuz tetap tertekan hingga Maret, sementara pelaku pasar menilai pelepasan cadangan tidak sebanding dengan gangguan sekitar 20 juta barel per hari dari penutupan selat. Pada pembaruan harga, WTI April naik 10% ke US$96,07 dan Brent Mei naik 9,7% ke US$100,88. (Arl)
Sumber: Newsmaker.id