Minyak Melonjak Usai Serangan Kapal di Irak, Rilis IEA Tak Redakan Kekhawatiran Pasokan
Harga minyak dunia melonjak setelah dua kapal tanker diserang di perairan Irak, memicu kekhawatiran baru soal keamanan pengiriman dan pasokan energi di Timur Tengah. Sentimen pasar lebih banyak dipengaruhi risiko gangguan pasokan dibanding langkah pelepasan cadangan minyak besar-besaran oleh International Energy Agency (IEA).
Brent sempat naik hingga 8,2% ke US$99,54 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menembus US$94 per barel. Setelah serangan tersebut, Irak menghentikan sementara operasi di terminal minyaknya, menurut pernyataan pejabat pelabuhan kepada media pemerintah setempat.
Insiden ini menyoroti ancaman terhadap jalur pelayaran energi di kawasan, bukan hanya di Selat Hormuz. Ketegangan di Hormuz disebut telah membuat arus minyak global terganggu, mengingat jalur itu biasanya menyalurkan sekitar seperlima perdagangan minyak dunia. Gangguan ini turut mendorong kenaikan harga gas alam dan produk olahan seperti diesel, sehingga meningkatkan risiko tekanan inflasi.
Di tengah situasi tersebut, produsen Teluk juga mulai memangkas produksi. Irak termasuk yang lebih dulu mengurangi output, disusul Kuwait dan Arab Saudi. Pemangkasan ini mendorong IEA melakukan pelepasan cadangan terkoordinasi sebesar 400 juta barel, dengan AS berencana melepas 172 juta barel sebagai bagian dari upaya menahan kenaikan harga.
Namun pasar menilai tambahan pasokan dari cadangan strategis belum cukup untuk menutup potensi gangguan besar di Timur Tengah. Konsumsi minyak global berada sedikit di atas 100 juta barel per hari, sementara pengurangan pasokan dari produsen Teluk disebut sudah sekitar 6% dari kebutuhan tersebut dan berisiko bertambah jika situasi memburuk.
Dari sisi geopolitik, eskalasi retorika memperkecil harapan deeskalasi cepat. Iran menyampaikan melalui perantara regional bahwa gencatan senjata mensyaratkan jaminan AS bahwa tidak akan ada serangan lanjutan, syarat yang dinilai sulit diterima Washington. Presiden Donald Trump menyatakan perang akan segera berakhir, meski juga menegaskan AS akan bertahan “selama diperlukan” untuk menyelesaikan tujuannya.
Pada perdagangan di Asia, Brent kontrak Mei tercatat naik 6,2% ke US$98,65 per barel pada pukul 09.32 waktu Singapura, sementara WTI kontrak April menguat 6,0% ke US$93,51 per barel.
Kenaikan minyak saat ini terutama dipicu oleh risiko pasokan dan keamanan pengiriman. Pelaku pasar akan memantau perkembangan keamanan di perairan Irak, status operasional terminal ekspor, serta arah ketegangan di Selat Hormuz yang menjadi kunci stabilitas pasokan global.(asd)
Sumber: Newsmasker.id