Trader Menimbang Dampak Perang dan Rencana Rilis Cadangan, Minyak Berfluktuasi
Harga minyak bergerak liar dalam sesi perdagangan yang volatil ketika pelaku pasar menimbang apakah rilis cadangan darurat oleh negara-negara kaya dapat meredam gangguan pasokan dari Timur Tengah yang terus membesar.
International Energy Agency (IEA) pada Rabu mengumumkan rilis 400 juta barel—skala yang melampaui pelepasan cadangan setelah invasi Rusia ke Ukraina—dan sempat mendorong harga minyak bergerak hingga wilayah negatif secara intraday. Menteri Dalam Negeri AS Doug Burgum menilai timing rilis tersebut “sempurna”, sementara Jepang disebut melanjutkan rencana rilis cadangannya sendiri.
Namun pasar tetap “whipsaw” karena pesan yang saling bertabrakan dari Gedung Putih mengenai status konflik. Presiden Donald Trump mengatakan dalam wawancara Axios bahwa perang akan berakhir “segera” karena “hampir tidak ada lagi target yang tersisa”. Di sisi lain, pejabat Israel dan AS menyebut mereka bersiap setidaknya untuk dua pekan lagi gelombang serangan.
Rilis cadangan ini menegaskan betapa tegangnya kondisi pasar minyak setelah perang di Timur Tengah secara efektif menghentikan pelayaran melalui Selat Hormuz—jalur sempit yang biasanya mengalirkan sekitar seperlima arus minyak mentah dunia—dan membuat produsen utama Teluk Persia memangkas output. Pada Rabu, tiga kapal dilaporkan terkena proyektil yang diduga terkait serangan di kawasan, menandakan konflik masih jauh dari mereda.
“Pasar kembali fokus pada volume yang hilang akibat penutupan selat, dan menyadari transit masih tidak aman,” kata Giovanni Staunovo, analis komoditas di UBS. Brent diperdagangkan lebih tinggi di sekitar $91 per barel setelah sebelumnya bolak-balik antara naik dan turun. Fluktuasi ini melanjutkan periode volatilitas ekstrem pekan ini yang sempat membawa harga mendekati $120 pada Senin.
Minyak sempat jatuh pada Selasa ketika pasar bereaksi terhadap komentar yang berubah-ubah dari pemerintahan Trump terkait perang dan keamanan Hormuz. Menteri Energi Chris Wright sempat mengunggah—lalu menghapus—klaim bahwa Angkatan Laut AS mengawal sebuah tanker melewati selat dekat Iran, sebelum Gedung Putih mengakui operasi tersebut tidak terjadi.
“Ini benar-benar terasa seperti pasar yang bergerak dalam kabut perang, bereaksi real-time saat peristiwa terjadi,” kata Rebecca Babin, senior energy trader di CIBC Private Wealth Group. Menurutnya, headline memicu swing intraday yang tajam dan memperpanjang volatilitas ekstrem di crude.
Konflik yang memasuki pekan kedua kini telah menyeret lebih dari belasan negara dan memunculkan kekhawatiran krisis inflasi, apalagi harga bensin ritel AS ikut melonjak dan menambah tekanan ekonomi-politik bagi Trump. Bloomberg juga melaporkan Saudi Arabia, Irak, Uni Emirat Arab, dan Kuwait telah menurunkan total output hingga jutaan barel per hari, sementara kilang terbesar di UEA menghentikan operasi setelah serangan drone.
CEO Saudi Aramco, Amin Nasser, memperingatkan bahwa semakin lama gangguan ini berlanjut, konsekuensinya akan “katastropik” bagi pasar minyak dunia dan semakin berat bagi ekonomi global.
Harga terbaru:
WTI (April) naik 3,1% ke $86,04 per barel (10:23 pagi New York).
Brent (Mei) naik 3,4% ke $90,82 per barel.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id