Minyak Berbalik Menguat, Pasar Uji Efektivitas Pelepasan Cadangan IEA
Harga minyak menguat pada Rabu ketika pasar meragukan apakah rencana Badan Energi Internasional (IEA) untuk melepas cadangan minyak dalam jumlah rekor bisa mengimbangi potensi guncangan pasokan akibat konflik AS-Israel dengan Iran. Brent naik 0,7% menjadi US$88,39 per barel pada 07:27 GMT, sementara WTI naik 1,2% menjadi US$84,43 per barel.
Kenaikan ini terjadi setelah kejatuhan lebih dari 11% pada Selasa, menggambarkan pasar yang masih sangat volatil. Di awal sesi Asia, kedua kontrak sempat memperpanjang penurunan sebelum berbalik naik, dengan WTI sempat melonjak sekitar 5% pada pembukaan pasar.
Menurut laporan Wall Street Journal yang mengutip pejabat yang mengetahui pembahasan tersebut, usulan pelepasan cadangan IEA akan melampaui 182 juta barel yang dilepas negara anggota IEA pada 2022 saat invasi Rusia ke Ukraina. Goldman Sachs memperkirakan pelepasan sebesar itu setara menutup sekitar 12 hari dari potensi gangguan ekspor Teluk sebesar 15,4 juta barel per hari.
Di sisi konflik, AS dan Israel melancarkan serangan udara paling intens dalam perang ini pada Selasa, menurut Pentagon dan laporan warga di lapangan. Komando Pusat AS juga menyebut telah “menghilangkan” 16 kapal penabur ranjau Iran di dekat Selat Hormuz, sementara Presiden AS Donald Trump memperingatkan ranjau apa pun yang dipasang harus segera disingkirkan. Meski Trump berulang kali menyatakan kesiapan mengawal tanker, sumber Reuters mengatakan Angkatan Laut AS menolak permintaan industri pelayaran untuk pengawalan karena risiko serangan dinilai terlalu tinggi saat ini.
Kekhawatiran pasokan tetap menonjol. Sumber menyebut ADNOC menutup kilang Ruwais setelah kebakaran di kompleks tersebut usai serangan drone, menandai gangguan infrastruktur energi terbaru. Data pengiriman juga menunjukkan Arab Saudi diperkirakan meningkatkan pasokan via Laut Merah, namun masih jauh dari tingkat yang dibutuhkan untuk menggantikan penurunan aliran dari Hormuz, di tengah pengurangan produksi oleh Irak, Kuwait, dan Uni Emirat Arab.
Sejumlah proyeksi menegaskan risiko asimetris pada harga jika gangguan berlarut. Wood Mackenzie memperkirakan perang saat ini mengurangi pasokan minyak dan produk minyak Teluk ke pasar sekitar 15 juta barel per hari, yang berpotensi mendorong harga hingga US$150 per barel. Morgan Stanley menilai bahkan penyelesaian cepat pun dapat menyisakan gangguan berminggu-minggu bagi pasar energi. Di AS, sumber pasar mengutip data API yang menunjukkan stok minyak mentah, bensin, dan distilat turun pekan lalu, mengindikasikan permintaan yang lebih kuat.(alg)
Sumber: Newsmaker.id