• Wed, Mar 11, 2026|
  • JKT --:--
  • TKY --:--
  • HK --:--
  • NY --:--

Market & Economic Intelligence Platform Insight on Macro, Commodities, Equities & Policy

11 March 2026 16:25  |

Minyak Berbalik Menguat, Pasar Uji Efektivitas Pelepasan Cadangan IEA

Harga minyak menguat pada Rabu ketika pasar meragukan apakah rencana Badan Energi Internasional (IEA) untuk melepas cadangan minyak dalam jumlah rekor bisa mengimbangi potensi guncangan pasokan akibat konflik AS-Israel dengan Iran. Brent naik 0,7% menjadi US$88,39 per barel pada 07:27 GMT, sementara WTI naik 1,2% menjadi US$84,43 per barel.

Kenaikan ini terjadi setelah kejatuhan lebih dari 11% pada Selasa, menggambarkan pasar yang masih sangat volatil. Di awal sesi Asia, kedua kontrak sempat memperpanjang penurunan sebelum berbalik naik, dengan WTI sempat melonjak sekitar 5% pada pembukaan pasar.

Menurut laporan Wall Street Journal yang mengutip pejabat yang mengetahui pembahasan tersebut, usulan pelepasan cadangan IEA akan melampaui 182 juta barel yang dilepas negara anggota IEA pada 2022 saat invasi Rusia ke Ukraina. Goldman Sachs memperkirakan pelepasan sebesar itu setara menutup sekitar 12 hari dari potensi gangguan ekspor Teluk sebesar 15,4 juta barel per hari.

Di sisi konflik, AS dan Israel melancarkan serangan udara paling intens dalam perang ini pada Selasa, menurut Pentagon dan laporan warga di lapangan. Komando Pusat AS juga menyebut telah “menghilangkan” 16 kapal penabur ranjau Iran di dekat Selat Hormuz, sementara Presiden AS Donald Trump memperingatkan ranjau apa pun yang dipasang harus segera disingkirkan. Meski Trump berulang kali menyatakan kesiapan mengawal tanker, sumber Reuters mengatakan Angkatan Laut AS menolak permintaan industri pelayaran untuk pengawalan karena risiko serangan dinilai terlalu tinggi saat ini.

Kekhawatiran pasokan tetap menonjol. Sumber menyebut ADNOC menutup kilang Ruwais setelah kebakaran di kompleks tersebut usai serangan drone, menandai gangguan infrastruktur energi terbaru. Data pengiriman juga menunjukkan Arab Saudi diperkirakan meningkatkan pasokan via Laut Merah, namun masih jauh dari tingkat yang dibutuhkan untuk menggantikan penurunan aliran dari Hormuz, di tengah pengurangan produksi oleh Irak, Kuwait, dan Uni Emirat Arab.

Sejumlah proyeksi menegaskan risiko asimetris pada harga jika gangguan berlarut. Wood Mackenzie memperkirakan perang saat ini mengurangi pasokan minyak dan produk minyak Teluk ke pasar sekitar 15 juta barel per hari, yang berpotensi mendorong harga hingga US$150 per barel. Morgan Stanley menilai bahkan penyelesaian cepat pun dapat menyisakan gangguan berminggu-minggu bagi pasar energi. Di AS, sumber pasar mengutip data API yang menunjukkan stok minyak mentah, bensin, dan distilat turun pekan lalu, mengindikasikan permintaan yang lebih kuat.(alg)

Sumber: Newsmaker.id

Related News

OIL

Harga Minyak Naik Dua Hari Beruntun, Ditopang Optimisme Daga...

Minyak naik untuk hari kedua di tengah optimisme atas perundingan perdagangan AS menjelang batas waktu minggu depan, dan kare...

25 July 2025 10:56
OIL

Brent Terombang-ambing, Pasar Bingung Antara Sanksi dan Paso...

Harga minyak mengalami pergerakan yang tidak stabil pada hari Selasa (15/07), di tengah ketidakpastian pasar atas dampak kebi...

15 July 2025 21:42
OIL

Brent Turun Tipis, Risiko Hormuz Mengintai

Harga minyak terkoreksi tipis dalam perdagangan Asia yang sepi, saat pelaku pasar menunggu hasil pembicaraan AS–Iran di Jen...

17 February 2026 12:45
OIL

Brent Stabil, Risiko Hormuz Belum Hilang

Harga minyak bergerak stabil setelah Amerika Serikat dan Iran menyampaikan nada positif dalam pembicaraan terkait program nuk...

18 February 2026 15:41
BIAS23.com NM23 Ai