• Tue, Mar 10, 2026|
  • JKT --:--
  • TKY --:--
  • HK --:--
  • NY --:--

Market & Economic Intelligence Platform Insight on Macro, Commodities, Equities & Policy

10 March 2026 02:11  |

Minyak AS Ditutup di Dekat $95 usai Sempat Melejit ke $119

Harga minyak mentah AS ditutup di bawah US$100 per barel pada Senin(9/3), setelah reli intraday yang volatil dipicu perang Iran dan penutupan Selat Hormuz, sementara para menteri energi G7 dijadwalkan membahas opsi pelepasan stok minyak untuk meredam gangguan pasokan.

Kontrak West Texas Intermediate (WTI) naik 4,26% dan ditutup di US$94,77 per barel. Namun WTI sempat melonjak hingga US$119,48 pada perdagangan semalam, seiring negara-negara Arab Teluk memangkas produksi dan Selat Hormuz tetap tertutup akibat ancaman dari Iran.

Minyak Brent, sebagai patokan global, terakhir tercatat naik 6,48% ke US$98,70 per barel setelah sebelumnya menyentuh US$119,50. Lonjakan tersebut menandai kembalinya harga minyak menembus US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, sebelum kemudian turun dari puncak sesi.

Sumber yang dikutip CNBC menyebut menteri energi G7 akan menggelar pertemuan virtual pada Selasa pagi untuk membahas kemungkinan pelepasan cadangan minyak secara bersama-sama. Setiap keputusan terkait pelepasan cadangan diperkirakan dilakukan setelah pertemuan tersebut.

Sinyal kebijakan sudah muncul dari jalur fiskal. Para menteri keuangan G7 yang mengadakan pertemuan virtual pada Senin menyatakan “siap mengambil langkah yang diperlukan,” termasuk mendukung pasokan energi global melalui pelepasan stok. Anggota G7 mencakup Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Inggris, dan Amerika Serikat.

Dari sisi fundamental, penutupan Selat Hormuz memperketat pasokan fisik dan mengerek premi risiko karena sekitar 20% konsumsi minyak dunia diekspor melalui jalur tersebut. Konsultan Rapidan Energy menilai situasi ini sebagai gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah, menempatkan pasar pada kondisi rapuh terhadap berita eskalasi maupun de-eskalasi.

Dari sisi proyeksi, Rystad Energy memperkirakan Brent bisa naik di atas US$110 per barel jika kondisi saat ini bertahan dua bulan, dan berpotensi menembus US$135 per barel bila berlangsung hingga empat bulan, menurut catatan pasar yang dirilis Senin.

Pelaku pasar akan memantau hasil pertemuan menteri energi G7 dan kemungkinan pelepasan cadangan, perkembangan status Selat Hormuz dan respons produksi negara Teluk, serta seberapa cepat volatilitas intraday mereda atau justru meningkat seiring ketidakpastian pasokan berlanjut.(yds)

Sumber: Newsmaker.id

Related News

OIL

Harga Minyak Naik Dua Hari Beruntun, Ditopang Optimisme Daga...

Minyak naik untuk hari kedua di tengah optimisme atas perundingan perdagangan AS menjelang batas waktu minggu depan, dan kare...

25 July 2025 10:56
OIL

Brent Terombang-ambing, Pasar Bingung Antara Sanksi dan Paso...

Harga minyak mengalami pergerakan yang tidak stabil pada hari Selasa (15/07), di tengah ketidakpastian pasar atas dampak kebi...

15 July 2025 21:42
OIL

Brent Turun Tipis, Risiko Hormuz Mengintai

Harga minyak terkoreksi tipis dalam perdagangan Asia yang sepi, saat pelaku pasar menunggu hasil pembicaraan AS–Iran di Jen...

17 February 2026 12:45
OIL

Brent Stabil, Risiko Hormuz Belum Hilang

Harga minyak bergerak stabil setelah Amerika Serikat dan Iran menyampaikan nada positif dalam pembicaraan terkait program nuk...

18 February 2026 15:41
BIAS23.com NM23 Ai