Minyak Terpantau Naik Namun Hormuz Masih Tersendat
Harga minyak menguat seiring upaya melanjutkan perundingan untuk mengakhiri perang Iran kembali tersendat, membuat Selat Hormuz nyaris tidak bisa dilalui dan memperpanjang disrupsi pasokan yang memicu volatilitas pasar global.
Kontrak berjangka Brent naik 1,7% dan diperdagangkan di atas US$107 per barel, setelah sempat menguat hingga 3%. Kenaikan ini mencerminkan premi risiko pasokan karena arus pelayaran disebut turun tajam, dengan transit harian melalui Hormuz mendekati nol.
Axios melaporkan Teheran menyampaikan proposal baru kepada AS melalui mediator Pakistan untuk membuka kembali selat tersebut, dengan pembahasan nuklir ditunda ke tahap berikutnya. Namun, Presiden Donald Trump membatalkan rencana perjalanan utusan utamanya ke Pakistan, sementara Iran menyatakan tidak akan bernegosiasi jika berada di bawah ancaman; Trump disebut akan menggelar rapat pada Senin dengan tim keamanan nasional dan kebijakan luar negerinya.
Meski gencatan senjata sebagian besar bertahan sejak awal April, blokade pelayaran oleh AS dan Iran memperpanjang gangguan terhadap aliran minyak mentah, produk BBM, gas alam, hingga pupuk. Dampaknya ikut menaikkan kekhawatiran pasar atas risiko tekanan inflasi, di tengah laporan kelangkaan liquefied petroleum gas di India.
International Energy Agency menilai konflik ini memicu guncangan pasokan terbesar dalam sejarah. Pelaku pasar menilai semakin lama Hormuz tertutup, semakin besar penyesuaian konsumsi untuk mengimbangi penurunan pasokan setidaknya 10%, dengan kehilangan kumulatif 1 miliar barel disebut hampir pasti; pasar kini memantau perkembangan akses pelayaran Hormuz, sinyal dari jalur mediasi, hasil rapat keamanan nasional AS pada Senin, serta indikator fisik seperti laju transit dan ketersediaan produk. (gn)*
Sumber: Newsmaker.id