Minyak Naik 3 Hari, Risiko Hormuz Picu Kekhawatiran Pasokan
Harga minyak menguat untuk hari ketiga pada Selasa di sesi Asia, memicu meluasnya konflik AS–Israel dengan Iran serta meningkatkan ancaman terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz. Pasar menilai risiko gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah wilayah kunci produksi energi global semakin besar seiring belum terlihatnya tanda-tanda de-eskalasi yang cepat.
Kontrak Brent diperdagangkan sekitar US$79,44 per barel (naik 2,2%), sementara WTI menguat ke US$72,40 per barel (naik 1,6%). Pada perdagangan sebelumnya, Brent sempat menyentuh level tertinggi sejak Januari 2025 sebelum memangkas sebagian penguatannya, namun tetap menutup sesi dengan kenaikan tajam.
Kekhawatiran pasar utama berkumpul di Selat Hormuz, rute strategis yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia. Sejumlah kapal tanker dan kapal kontainer dilaporkan mulai menghindari jalur tersebut, sementara biaya pengiriman energi setelah meningkat sebagian perusahaan asuransi membatalkan perlindungan bagi kapal yang melintasi area berisiko.
Seorang analis IG menilai, selama konflik berlarut dan Iran menunjukkan kesediaan tujuan infrastruktur energi, risiko kenaikan harga masih terbuka. Selain risiko pada arus pengiriman, pasar juga menyoroti potensi kerusakan fasilitas energi di negara-negara Teluk yang dapat memicu gangguan pasokan lebih lama.
Analis ING menyatakan pasar masih mencerna kemungkinan eskalasi lebih luas di Timur Tengah. Mereka menilai, selain isu Hormuz, risiko yang lebih besar adalah jika serangan meluas hingga infrastruktur energi tambahan, karena dapat memicu pemadaman produksi atau distribusi yang lebih berkepanjangan.
Sejumlah lembaga memperkirakan harga minyak akan tetap tinggi dalam beberapa hari ke depan. Bernstein bahkan menaikkan harga Brent 2026 dari US$65 menjadi US$80 per barel, dan memperkirakan skenario ekstrem dapat mendorong harga ke US$120–US$150 jika konflik berkepanjangan. Peningkatan juga terlihat pada produk makanan seperti solar dan bensin, sementara sentimen pasar turut mempengaruhi laporan pencahayaan operasi kilang domestik terbesar Arab Saudi setelah serangan drone.(asd)
Sumber : Newsmaker.id