• Wed, Jun 10, 2026|
  • JKT --:--
  • TKY --:--
  • HK --:--
  • NY --:--

Market & Economic Intelligence Platform Insight on Macro, Commodities, Equities & Policy

10 June 2026 16:55  |

Bahrain, Kuwait, Jordan Jadi Target Sasaran Balasan Iran

Ketegangan di Timur Tengah meningkat tajam setelah Amerika Serikat melancarkan serangan balasan terhadap Iran menyusul jatuhnya helikopter Apache milik AS di dekat Selat Hormuz, Senin (8/6/2026).

Pukul 19.33 waktu tiimur AS, helikopter AH-64 Apache tersebut mengalami insiden dan kedua pilot berhasil diselamatkan, menurut Centcom.

Dalam balasannya, Iran menargetkan beberapa lokasi strategis di Bahrain, Kuwait, dan Yordania menggunakan rudal dan drone. Sistem pertahanan udara Bahrain berhasil mencegat serangan, sementara laporan media Iran menyebut ledakan terdengar di beberapa lokasi di sekitar Selat Hormuz. Serangan ini menimbulkan kekhawatiran bahwa kesepakatan sementara antara AS dan Iran bisa tertunda.

Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa serangan tersebut merupakan respons proporsional terhadap tindakan Iran dan menekankan pentingnya menjaga kehadiran militer di kawasan. Trump menyatakan kepada publik bahwa kesepakatan dengan Teheran masih mungkin dicapai dalam beberapa hari, meskipun bentrokan terbaru menimbulkan ketidakpastian.

Pihak Iran melalui media resmi menegaskan akan menanggapi serangan AS dan memperingatkan negara-negara regional untuk tidak memberikan akses bagi pasukan Amerika. Mohammad Bagher Ghalibaf, Ketua Parlemen Iran, bahkan menegaskan bahwa Iran siap menempuh langkah lebih tegas jika kesepakatan dilanggar, sambil tetap menunjukkan preferensi diplomasi.

Insiden ini menggarisbawahi kerapuhan gencatan senjata yang sudah berlangsung dua bulan. Negosiasi yang dimediasi oleh pihak ketiga, termasuk Pakistan, terus berlangsung meski interaksi militer aktif berlangsung di lapangan. Ketegangan ini tetap menjadi penghambat signifikan bagi stabilitas kawasan dan kelancaran jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Meski konflik berlanjut, pasar global tetap memantau perkembangan dengan cermat. Lonjakan harga minyak dan kekhawatiran terhadap inflasi serta risiko geopolitik semakin membebani investor. Prospek perdamaian jangka pendek masih tipis, sementara AS dan Iran sama-sama menekankan niat untuk menjaga jalur diplomasi tetap terbuka, meski ancaman militer tetap mengintai.(yds)

Sumber: Newsmaker.id

 

Related News

GLOBAL ECONOMY

Trump Berjanji untuk 'Segera' Bernegosiasi untuk Mengakhiri ...

Presiden Donald Trump mengumumkan pada hari Rabu bahwa ia dan pemimpin Rusia sepakat melalui panggilan telepon untuk "segera"...

13 February 2025 12:25
GLOBAL ECONOMY

Nonfarm Payrolls AS Naik 143.000 Pada Januari Vs. 170.000 Ya...

Nonfarm Payrolls (NFP) di AS naik 143.000 pada Januari, Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) melaporkan pada hari Jumat. Angk...

7 February 2025 20:40
GLOBAL ECONOMY

Kanada Akan Mengumumkan Tarif Balasan Senilai C$29,8 Miliar ...

Kanada akan mengumumkan tarif balasan senilai C$29,8 miliar terhadap Amerika Serikat pada hari Rabu (12/3) sebagai tanggapan ...

12 March 2025 18:54
GLOBAL ECONOMY

Tiongkok Tegaskan AS Harus Membatalkan Tarif Sebelum Pembica...

Beijing menegaskan kembali seruannya kepada AS untuk membatalkan tarif sepihak terhadap Tiongkok, menggarisbawahi kebuntuan a...

8 May 2025 16:16
BIAS23.com BIAS23.com NM23 Ai