Minyak Naik Tipis, Pasar Kaji Ulang Risiko Amerika Serikat - Iran
Harga minyak mulai naik lagi setelah sesi sebelumnya dibanting keras. Pada perdagangan Selasa, WTI pulih ke kisaran $62–$63/barel, sementara Brent kembali mendekati $66–$67/barel, setelah sehari sebelumnya diperkirakan lebih dari 4% saat pasar tiba-tiba menghilangkan premi risiko.
Sentimen ditarik ke dua arah sekaligus. Di satu sisi, ketegangan di Selat Hormuz kembali membuat pasar waspada: Operasi Perdagangan Maritim Inggris melaporkan kejadian kapal yang sempat “dicegat” perahu kecil bersenjata di jalur masuk selat—pengingat bahwa risiko gangguan pelayaran belum hilang.
Namun di sisi lain, pasar juga dapat memberikan sinyal “pendingin”. Donald Trump menyebut pembicaraan nuklir dengan Iran bisa dimulai dalam hitungan hari, dan rencana pertemuan lanjutan di Turki ikut menekan kekhawatiran eskalasi—hasilnya: premi risiko geopolitik yang kemarin menopang harga, pelan-pelan terkikis.
Fokus berikutnya berpindah ke cerita dagang. Trump mengklaim akan memangkas tarif untuk India sebagai ketidakseimbangan komitmen Narendra Modi menghentikan pembelian minyak Rusia—meski detailnya masih jadi tanda tanya. Jika skenario ini benar-benar terjadi, alur pasokan global bisa berubah dengan cepat: bar Rusia yang biasanya terserap India akan “cari rumah” baru, dan itu bisa menambah tekanan di pasar yang sudah dihantui narasi oversupply.
Kesimpulannya: minyak lagi masuk mode “tarik-ulur”. Risiko jalur Hormuz bikin pasar nggak berani santai, tapi harapan diplomasi AS–Iran dan cerita supply/oversupply bikin mudah ke-rem. Selama berita utama masih saling tarik, kemungkinan pergerakan tetap whiplash—naik tipis, lalu bisa berbalik lagi kalau ada kabar baru.(alg)
Sumber: Newsmaker.id