Minyak Ambruk 5%: Risiko Iran Luntur, India Cut Minyak Rusia
Harga minyak turun pada hari Senin (2/2) setelah ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran mereda, sehingga mendorong para trader mengunci keuntungan setelah kenaikan harga baru-baru ini.
Sementara itu, Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa ia telah mencapai kesepakatan dagang dengan India, dan bahwa negara Asia tersebut akan berhenti membeli minyak dari Rusia.
Pada pukul 15:12 waktu AS (20:12 GMT), kontrak berjangka Brent untuk April turun 4,3% ke $66,32 per barel, dan minyak mentah acuan AS West Texas Intermediate (WTI) turun 4,6% ke $62,19 per barel.
Harga minyak sempat naik mendekati level tertinggi dalam hampir enam bulan pada pekan lalu, didorong kekhawatiran soal kemungkinan aksi militer AS terhadap Iran, sementara cuaca dingin ekstrem di Amerika Utara juga dinilai berpotensi mengganggu pasokan.
Dua kontrak acuan tersebut mencatat kenaikan bulanan terbesar sejak 2022 pada bulan Januari.
Trump melalui layanan Truth Social mengatakan bahwa ia telah berbicara dengan Perdana Menteri India, Narendra Modi. Menurut Trump, Modi sepakat untuk menghentikan pembelian minyak Rusia.
Pembelian minyak Rusia oleh India sebelumnya juga menjadi titik panas dalam negosiasi dagang dengan AS. Trump menilai pembelian minyak itu membantu Rusia mempertahankan perang terhadap Ukraina, sedangkan India menyatakan mereka perlu mengimpor minyak untuk memenuhi kebutuhan penduduknya.
Presiden AS Donald Trump mengatakan pada akhir pekan bahwa Iran sedang “serius berbicara” dengan pemerintahannya. Pernyataan ini muncul tak lama setelah pejabat Iran menyatakan mereka sedang mengatur negosiasi dengan Amerika Serikat.
Trump sebelumnya berulang kali mengancam Iran dengan aksi militer terkait kesepakatan nuklir dan demonstrasi yang terus berlangsung di negara tersebut. Ia juga sempat mengerahkan armada angkatan laut ke kawasan Timur Tengah.
Langkah itu meningkatkan kekhawatiran akan serangan baru AS terhadap Iran, yang dapat memicu ketidakstabilan geopolitik di Timur Tengah dan mengganggu produksi minyak di kawasan tersebut. Harga minyak mentah sempat melonjak karena pasar memasukkan premi risiko yang lebih besar.
Gangguan pasokan terkait cuaca di AS belakangan juga membantu mendorong kenaikan harga minyak, meski ada kekhawatiran atas lemahnya permintaan global serta potensi kelebihan pasokan pada 2026.
Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya yang dikenal sebagai OPEC+ pada hari Minggu mempertahankan produksi minyak untuk bulan Maret tanpa perubahan. Keputusan ini menegaskan sikap kartel yang memilih menahan kenaikan produksi lanjutan meskipun harga minyak sempat naik.
Kelompok tersebut telah menaikkan produksi sekitar 2,9 juta barel per hari sepanjang 2025, namun pada November mengumumkan penundaan tanpa batas waktu untuk kenaikan produksi berikutnya.
OPEC+ tidak memberikan panduan ke depan terkait produksi, kemungkinan karena meningkatnya ketidakpastian terhadap kondisi ekonomi global dan isu-isu geopolitik.(yds)
Sumber: reuters.com