Minyak Stabil, Tapi Ancaman Banjir Pasokan di Depan Mata
Harga minyak bergerak stabil setelah sebelumnya mencatat penurunan terbesar dalam hampir tiga minggu, karena pelaku pasar memilih menunggu rangkaian laporan penting pekan ini untuk mengukur seberapa besar kelebihan pasokan di pasar global. Minyak mentah Brent diperdagangkan sedikit di atas $62 per barel setelah turun sekitar 2% pada hari Senin, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di dekat $59 per barel. Pasar kini menunggu rilis Prospek Energi Jangka Pendek dari Badan Informasi Energi AS (EIA) pada hari Selasa, disusul laporan dari Badan Energi Internasional (IEA) dan OPEC akhir pekan ini.
Sejauh ini, IEA telah memperkirakan akan terjadi surplus rekor tahun depan, dan para pedagang akan sangat memperhatikan apakah ada perubahan dalam outlook tersebut. Sejak awal November, pergerakan harga minyak mentah cenderung terjebak dalam kisaran sempit sekitar $4 per barel, karena investor menimbang banyak faktor sekaligus: mulai dari potensi kelebihan pasokan, dampak sanksi terhadap Rusia, hingga kemungkinan pembatasan ekspor dari produsen utama lainnya. Situasi ini membuat pasar minyak berada dalam mode “tunggu dan lihat”, tanpa arah tren yang benar-benar jelas.
Menurut Warren Patterson, kepala strategi komoditas di ING Groep NV, surplus di pasar minyak diperkirakan akan tumbuh pada 2026, dengan pasokan melebihi permintaan lebih dari 2 juta barel per hari. Ia memproyeksikan harga Brent akan rata-rata di kisaran $57 per barel sepanjang tahun, dengan asumsi aliran minyak Rusia tetap berlanjut meski ada sanksi dari AS. Jika skenario ini terjadi, pelaku pasar harus bersiap menghadapi periode harga minyak yang lebih rendah dan tekanan tambahan bagi produsen, sementara bagi konsumen dan negara pengimpor, situasi ini bisa menjadi “diskon energi” yang menguntungkan. (az)
Sumber: Newsmaker.id