Minyak Dekat Puncak 2 Pekan, Jelang Fed dan Isu Rusia–Venezuela
Harga minyak bergerak di dekat level tertinggi dua pekan pada perdagangan Senin (8/12), didukung ekspektasi bahwa Federal Reserve AS akan memangkas suku bunga pekan ini.
Pemangkasan bunga dipandang bisa mendorong pertumbuhan ekonomi dan pada akhirnya meningkatkan permintaan energi.
Hingga pukul 09.22 GMT, Brent tercatat sekitar US$63,50 per barel (turun tipis 0,4%), sementara WTI berada di kisaran US$59,83 per barel, juga melemah 0,4%. Meski sedikit terkoreksi, kedua kontrak ini masih bertahan dekat level penutupan tertinggi sejak 18 November.
Analis mencatat, pasar minyak saat ini berada dalam mode “wait and see”. Pelaku pasar menunggu kepastian arah suku bunga AS sekaligus perkembangan terbaru pembicaraan damai Ukraina. Jika dalam waktu dekat tercapai kesepakatan terkait Ukraina, ekspor minyak Rusia berpotensi meningkat dan memberikan tekanan turun pada harga minyak.
Saat ini, data LSEG menunjukkan pasar memperkirakan sekitar 84% peluang pemangkasan suku bunga seperempat poin pada pertemuan The Fed hari Selasa–Rabu, namun komentar sejumlah pejabat bank sentral mengisyaratkan rapat kali ini bisa menjadi salah satu yang paling “keras” dan terbelah dalam beberapa tahun terakhir.
Di sisi geopolitik, proses perundingan damai Ukraina masih berjalan lambat. Perdebatan soal jaminan keamanan bagi Kyiv dan status wilayah yang dikuasai Rusia belum menemukan titik temu. Amerika Serikat dan Rusia juga masih berbeda pandangan terhadap proposal perdamaian yang diajukan pemerintahan Presiden Donald Trump.
Di saat yang sama, pasar terus memantau potensi gangguan pasokan dari Rusia dan Venezuela, yang bisa memperketat suplai global jika tensi politik kembali memanas.
Kombinasi harapan pemangkasan suku bunga, risiko geopolitik, dan ketidakpastian arah kebijakan The Fed membuat harga minyak bertahan tinggi, namun juga rentan terhadap pergerakan tajam jika muncul kabar baru dari front kebijakan maupun konflik.
Sumber: Reuters.com