Emas Dekat Level Tertinggi Juni, Dolar AS Masih Tertekan
Harga emas kembali menguat pada awal pekan setelah memantul dari area US$4.300 per troy ounce atau level terendah satu pekan. XAU/USD mencoba melanjutkan kenaikan, tetapi masih kesulitan menembus kuat area US$4.400 dan tetap berada di bawah level tertinggi sejak 5 Juni yang sempat dicapai pada Jumat.
Namun saat ini harga emas cenderung sideways di area US$4.390 per tray ounce. Dukungan bagi emas datang dari pelemahan dolar AS setelah data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan tanda perlambatan. Retail sales AS turun 0,6% pada Juli, menjadi penurunan pertama dalam sembilan bulan, sementara indeks sentimen konsumen University of Michigan melemah ke 51 dari 55,2 pada bulan sebelumnya.
Data tersebut, ditambah tanda-tanda inflasi AS yang mulai mendingin, meredakan ekspektasi bahwa Federal Reserve akan segera menaikkan suku bunga. Kondisi ini membantu menopang emas karena logam mulia cenderung lebih menarik saat dolar AS melemah dan ekspektasi suku bunga tinggi mulai berkurang.
Meski begitu, kenaikan emas masih tertahan oleh risiko inflasi dari harga energi yang volatil. Ketegangan AS-Iran, ancaman sanksi ekonomi baru dari Washington terhadap Teheran, serta belum jelasnya pembukaan kembali Selat Hormuz membuat risiko geopolitik tetap tinggi dan masih memberi dukungan bagi dolar AS sebagai aset safe haven.
Dari sisi dampak market, emas berpotensi tetap bergerak volatil di area tinggi karena pasar menimbang pelemahan data AS dengan risiko inflasi energi. CME FedWatch Tool menunjukkan pelaku pasar masih memperkirakan peluang sekitar 65% bahwa The Fed dapat menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun ini. Fokus berikutnya tertuju pada rilis FOMC Minutes pada Rabu, yang dapat memberi petunjuk baru terkait arah kebijakan The Fed dan menjadi katalis berikutnya bagi XAU/USD. (asd)*